10/11/2014

Tiga Tudung Raksaksa

Lihatlah mereka yang berkerumun di bawah pohon raksaksa
Bermain dan bernyanyi di bawah terik matahari
Menggunakan pakaian merah dan kuning, tertawa
Suara tawa mereka aneh
Wajah mereka dipoles dengan riasan yang aneh pula

Lihatlah mereka yang berkerumun di bawah rumah raksaksa
Berbicara dan berdiskusi tentang awan-awan yang bergerak
Terlihat sibuk dan rumit, berteriak
Suara teriakan mereka aneh
Jiwa mereka dipahat dengan bentuk yang aneh pula

Lihatlah mereka yang berkerumun di bawah tenda raksaksa
Tertidur dan melamun melihat titik-titik hujan turun
Tak ada beban, statis
Mereka tak bersuara, aneh
Tubuh mereka berdiri dalam posisi yang aneh pula

Di atas sana ada dewa
Entah satu atau lebih
Memandangi mereka yang terhalang dedaunan, atap, dan terpal
Maka dewa buatkan matahari, awan, dan hujan
Agar mereka sadar dewa ada di atas sana
Meski tak terlihat dari balik dedaunan, atap, dan terpal
Yang sibuk tertawa, berteriak, dan tidur

9/22/2014

Doraemon Dan Labirin Kaleng

Suatu hari aku menonton film Doraemon dan Labirin Kaleng. Duduk melihat gambaran abad 22 versi dunia Doraemon, sungguh lucu. Manusia membuat robot yang bentuknya sedemikian rupa mirip seperti manusia agar dapat berfungsi layaknya manusia, untuk membantu pekerjaan-pekerjaan manusia. Lalu seorang ilmuwan membuat robot yang lebih canggih daripada robot-robot lainnya, robot yang dapat berpikir dan bekerja selayaknya ilmuwan, memiliki nafsu selayaknya manusia yang diciptakan untuk membantu sang ilmuwan bekerja dalam membuat penemuan-penemuan baru, bahkan mungkin robot baru. Robot itu kemudian berubah menjadi jahat karena terlalu sempurna. Ia diciptakan dengan akal, ia ingin menguasai dunia, memperjuangkan kasta robot yang bukan sekedar pembantu manusia. Ia lalu menciptakan teknologi untuk manusia yaitu sebuah alat transportasi yang membuat manusia tak perlu repot-repot berjalan, bernapas, bahkan buang air besar lagi. Manusia menjadi bergantung pada alat tersebut dan membuat mereka lumpuh karena tak pernah lagi menggunakan kakinya. Selagi robot jahat tersebut mulai mencuri kekuasaan-kekuasaan di kota-kota dan negara-negara, para manusia diculik dan dimusnahkan.

Cerita dimulai saat Nobita menemukan koper misterius yang ternyata isinya adalah portal menuju Dunia Kaleng. Melalui portal, Nobita dan Doraemon menjelajah Dunia Kaleng yang indah dan modern, hingga mereka melihat masalah besar yang melanda Dunia Kaleng. Merasa kemanusiaan dalam ancaman, Nobita dan teman-temannya berani berjuang melawan robot ilmuwan jahat tersebut untuk kebenaran.

Sang Pencipta dikhianati oleh ciptaannya sendiri.

Alkisah hiduplah seorang manusia dengan kecerdasan di atas rata-rata. Pada zaman itu ia hidup dalam ketidakadilan dan justifikasi kaum-kaum barbar. Lalu, ia mengaku bahwa ia mendapat pencerahan yang disebut-sebut datang dari atas langit, suatu tempat yang tak bisa orang raih. Ia datang dengan peraturan baru, menyeimbangkan kebenaran dan keburukan, memperbaiki kerusakan yang dibuat oleh manusia pada masa itu. Perjuangan yang ia lakukan sangat berat karena hanya ia dan sahabat-sahabatnya sendiri yang dulu melawan peraturan yang sudah dipercaya oleh orang-orang ratusan tahun lamanya. Kaum minoritas melawan kaum mayoritas. Orang itu bernama Nabi.

Nabi bukan orang biasa, melainkan orang dengan spiritualisme tinggi. Dikatakan dalam cerita bahwa ia dapat berkomunikasi dengan mahluk-mahluk yang tak semua orang dapat lihat, menelaah misteri kematian, bahkan berkomunikasi dengan penciptanya, pencipta umat manusia. Ia berkata manusia diciptakan oleh zat tunggal yang berkuasa atas segala isi dari alam semesta, awal dari segala awal, akhir dari segala akhir, yang paling sempurna dari yang paling sempurna, mahluk adidaya. Ia disebut Tuhan.

Membangunkan orang dengan suara saja tidak cukup. Nabi butuh alat lain untuk menyadarkan orang-orang bahwa apa yang mereka percaya selama ratusan tahun adalah keliru. Ia mendakwahkan firman Tuhan yang akan hanya tertanam pada memori pendengarnya. Akhirnya, muncul dokumentasi dari firman-firman Tuhan berupa bukti fisik agar peraturan Tuhannya dapat hidup hingga puluhan atau ratusan tahun kedepan. Dokumentasi itu disebut Kitab.

Untuk apa aku mematuhi “firman Tuhan”-mu kalau “firman Tuhan”-ku lebih menguntungkan diriku? Untuk apa aku mengikuti peraturan baru bila peraturan lama ini sudah membudaya, mendarah daging dari zaman nenek dari nenekku hidup, yang dipercaya selama ratusan tahun? Bagaimana aku percaya bahwa apa yang kau katakan adalah benar, sedangkan apa yang kupercaya adalah salah?

Turunlah sesuatu yang menjanjikan keuntungan bagi orang-orang yang mengikuti peraturan baru sang Nabi, suatu konsep yang tak pernah terpikirkan oleh manusia manapun. Barang siapa yang meninggalkan ajaran lama (yang merupakan adat buruk) maka akan dijanjikan kehidupan yang tentram dan damai setelah kematian. Namun, bukan hadiah atas perilaku baik yang lebih menarik perhatian melainkan hadiah atas perilaku buruk. “Barang siapa yang menentang ajaran Kami, maka akan menjalankan hidup setelah mati dengan sangat sengsara. Ia akan ditempatkan pada tempat dengan api abadi, di mana manusia sebagai bahan bakarnya. Di sana kalian akan disiksa dengan berbagai jenis siksaan pedih yang kekal”. Pada masa itu manusia percaya adanya kehidupan setelah kematian. Konsep hadiah atas amalan baik dan buruk, serta dunia setelah kematian disebut Surga dan Neraka.

Nabi berhasil menyeimbangkan yang baik dan buruk. Nabi berhasil menyebarkan virus kebaikan, berdasarkan firman Tuhan. Peradaban manusia berubah menjadi damai dan lebih baik dari sebelumnya. Ajaran baru, era baru dimulai saat itu.

Waspadalah terhadap Nabi lain setelah aku.

Beratus tahun berlalu, Nabi sudah lama mati namun ajaran Kitab tak pernah hilang. Sebuah warisan dari seseorang yang pernah memperjuangkan keadilan, sebuah warisan dari seorang pahlawan. Manusia banyak berkembang, manusia banyak berubah, memperbaiki diri dan memperbaiki peradaban untuk kehidupan yang lebih baik. Lalu tiba di suatu titik di mana Kitab mulai dipertanyakan. Seiring waktu berubah, banyak hal yang bertentangan dengan Kitab, banyak penemuan yang tak disebutkan dalam kitab. Manusia kembail hidup dalam tanda tanya seperti anak ayam kehilangan induknya. Lalu, bagaimana mereka kembali hidup pada jalan yang lurus, sedangkan ajaran Kitab kini mulai tak sejalan dengan peradaban? Tiada Nabi lain yang lahir, tiada Nabi lain yang akan menyelamatkan mereka. Apa yang mereka percaya selama ratusan tahun kini tak berguna bagi hidupnya karena peradaban telah bermetamorfosa terlalu jauh dari dasar kebaikan yang dikatakan Kitab. Satu persatu manusia mulai meninggalkan ajaran Kitab. Meski sulit, namun mereka mencoba berdiri di atas kaki sendiri. Tiba masanya manusia hidup dengan pedoman dan prinsip hidup secara individual.

Apakah Kitab yang sudah lama kita percaya itu benar? Apakah Kitab yang ada saat ini asli? Mengapa hidup dapat berubah jauh dengan ajaran Kitab, sedangkan dasar dari kita hidup sendiri adalah Kitab itu sendiri?

Apakah Nabi berkata benar, bahwa peraturan baru yang ia bawa saat itu merupakan firman Tuhan?

Dapatkah Manusia mencari kebenaran dari pikirannya?

Nobita dan Doraemon menelusuri Labirin Kaleng untuk mencari kebenaran.

Orang-orang mulai gelisah, lalu munculah Nabi-Nabi baru yang entah asalnya dari mana, yang berkata bahwa mereka telah berkomunikasi dengan Tuhan, yang berkata bahwa mereka membawa firman Tuhan yang baru untuk hidup lebih baik.

Namun, apakah para manusia memercayai para Nabi itu?

Waspadalah terhadap Nabi...

Tentu tidak.

Manusia muak, manusia tak percaya lagi pada para Nabi. Mereka lebih percaya pada diri mereka sendiri. Beratus tahun lamanya mereka percaya ajaran Kitab, tiba era di mana segalanya menjadi bertentangan dengan “firman Tuhan”, era saat para manusia modern itu hidup. Manusia bersama-sama bersatu, berunding untuk membuat peraturan baru yang tidak berbentuk ajaran, yang dapat diganti seiring perkembangan zaman, berdasarkan dari kesalahan yang telah mereka pelajari. Kini, Kitab hanya buku dongeng bagian dari sejarah.

Jangan sudahi cerita kita dulu, masih ada yang perlu dibahas.

Kalian tahu pareidoila apa ini, kalian bisa menghubungkan cerita ini ke cerita lain, dari titik satu ke titik lainnya. Rasa sakit mulai menjalar di pipi kalian, realita begitu menyakitkan bukan? Aku tak bicara bahwa cerita itu adalah cerita yang kuselewengkan dari realita yang ada. Manusia di era sekarang terbagi atas dua tipe, manusia yang masih percaya dengan Kitab dan manusia yang tidak. Bagi kalian yang masih percaya Kitab, bersyukurlah kalian akan menerima Surga setelah mati nanti. Namun bagi kalian yang sudah tidak percaya Kitab lagi, mari kita sama-sama diskusikan apakah hidup setelah mati itu benar-benar ada?

Bila Kitab memang benar berisikan firman Tuhan, berarti para Manusia tidak percaya pada Tuhan mereka lagi bukan? Zat yang menciptakan Manusia, Alpha dan Omega, yang paling sempurna dari yang paling sempurna, mahluk adidaya?

Sang Pencipta telah dibangkang oleh ciptaannya.

Doraemon Dan Labirin Kaleng.

8/03/2014

Serius Sebentar. Acak

Pukul tiga dini hari. Ditemani segelas teh hangat dan gemuruh dengkuran Aksel, kucing peliharaan.

Saya memang tidak menyukai kopi. Kopi itu pahit. Sesuatu yang tidak dapat saya atasi. Saya memang ingin hidup enaknya saja, segelas teh dengan dua bongkah balok gula.

Semakin aku tahu semakin aku bodoh. Semakin aku berusaha berpikir semakin aku merasa tidak berkemampuan untuk mencerna. Semua data, tulisan, kalimat kubaca tapi tak kumengerti. Mungkin mata ini lelah, mungkin mata ini butuh kaca mata baru, mungkin penyakit disleksiaku semakin parah. Entahlah, keimanan bukan sesuatu yang mudah untuk dibahas.

Rakyat Indonesia sedang gemar membicarakan iman. Bukan dia yang suka mencuri mangga tetangga, bukan. Namun topik yang tak pernah basi untuk diperdebatkan. Yang merasa benar melawan yang juga merasa benar. Semua bergargumen, saling bertukar pikiran, dan terkadang berujung cacian lalu baku hantam. Kepercayaan kuno yang tidak sejalan dengan teori baru dianggap fiksi oleh sebagian orang dan mereka para ilmuwan dianggap balita yang tak tahu apa-apa. Sungguh, aku cinta homo sapien.

Dalam Islam, saling mengingatkan untuk kembali ke jalan yang dibenarkan Islam adalah wajib hukumnya untuk sesama umat muslim. Sama seperti agama lainnya, agama yang berkiblat pada keesaan tuhan. Namun, keimanan adalah hak privasi. Terlahir Islam bukan berarti hidup Islam di usia dewasa. Semua terserah masing-masing individu. Keimanan memang hak privasi.

Bagi sebagian orang, akan kebingungan bila hidup tanpa pegangan. Sedangkan mereka yang merasa bisa hidup sendiri bebas terbang walau liar. Tidak setiap individu itu sama, dalam suatu kelompok pasti anggotanya memiliki kapasitas berpikir yang berbeda. Kesamaan dalam hal tertentu membuat mereka terikat dalam suatu kelompok dan menjalankan misi mereka masing-masing yang disebut-sebut “Guna menyadarkan umat manusia”.

Banyak orang mulai belajar untuk membuka pikirannya. Keterbukaan pikiran membuat banyak hal yang masuk ke tubuhnya, termasuk virus. Namun tidak hanya virus. Vitamin, mineral, dan nutrisi lainnya juga berdampingan dengan virus dan parasit ikut masuk menginjeksi pikiran banyak manusia. Terlebih teknologi kian maju, untuk didengar banyak orang sama mudahnya dengan meminum segelas air. Tinggal pilih, tetap pada ajaran yang lama atau ikut dengan perkembangan yang ada.

Namun, bagaimana dengan orang yang mengikuti tradisi sekaligus ikut arus modernisasi?

Mereka tidak mau rugi. Merasa neraka dan surga ada, mereka tetap mengagungkan tuhan mereka. Di sisi yang lain mereka juga membenarkan pernyataan sains yang mematahkan firman “tuhan” pada kitab suci mereka. Dunia ini terus berubah dan menua. Budaya hilang, revolusi pemerintahan, evolusi hewan, sosiologi dan sains. Ya, ilmu memang semakin dipikirkan semakin membuat kita bingung. Ini bisa menjadi bukti bahwa tuhan yang menciptakan manusia dengan sangat kompleks sehingga mereka selalu tersesat dalam ilmu pengetahuan, membuat rasa ingin tahu yang lebih dalam dan akhirnya gila di jalan atau merasa rendah diri karena belum tahu apa-apa. Semua yang tidak diketahui manusia adalah ilmu yang tuhan punya. Adalah teori ateisme yang berkata bahwa tuhan tercipta dalam pikiran manusia atas apa yang tidak dapat diketahuinya. Simpelnya, kitab suci adalah buatan manusia.

Hawking pernah berkata, menanyakan ada apa sebelum Big Bang itu sesuatu yang tidak ada gunanya untuk diperdebatkan. Seperti apa yang paling selatan dari kutub selatan. Bila kita tarik garis lurus, ada luar angkasa, ruang hampa udara di titik paling selatan dari kutub selatan, titik tak tentu. Hawking secara tidak langsung bilang tidak ada apa-apa di balik Big Bang. Big Bang adalah ujungnya, Big Bang adalah awal dari segalanya, titik. Namun manusia tetap kebingungan. Mereka haus akan rasa ingin tahu. Mereka menerka-nerka ada apa di balik Big Bang, ada apa di balik penciptaan seluruh alam semesta yang begitu luas dan 99,9% belum terjamah manusia. Mereka sebut “Tuhan” yang berdiri di balik Big Bang.

Kita hanya bisa kembali ke masa lalu melalui sejarah yang ditulis oleh para pemenang. Kita terlahir di masa kecanggihan teknologi elektronik, bukan di masa terbentuknya peradaban sungai Gangga, bukan di masa kekaisaran Romawi, bukan di masa nabi Ibrahim atau nabi Muhammad. Kita tidak bisa bersaksi langsung bahwa ayat-ayat Alquran benar-benar turun tertulis dalam media alam atas bukti kekuasaan Allah. Dan kita juga tidak terlahir di masa depan, masa yang juga tidak kita ketahui seperti apa, bahkan lebih parah dari masa lalu. Tidak ada petunjuk mengenai apa yang terjadi di depan sana dan tugas kita hanya berjalan terus berusaha untuk hidup dan beranak.

Karena sejarah ditulis para pemenang, mungkin saja, mungkin, tuhan dan setan adalah dua pihak yang selalu berperang hingga tuhan menang atas setan dan ia menuliskan hal-hal yang buruk tentang setan? Entahlah. Namun sejauh ini firman tuhan banyak mengajarkan manusia mana yang baik dan mana yang buruk sehingga semuanya menjadi terstruktur.

Saya pribadi, sejujurnya merasa ateisme masih mengganjal karena ilmu sains banyak belum menjelaskan hal ini itu. Oh ya, ateisme bukan layaknya sebuah kepercayaan. Ateisme adalah suatu ketidak percayaan. Ketidak percayaan atas tuhan dan ajaran agama. Ini bukti bahwa manusia memang ada batasnya karena masih belum dapat menjelaskan banyak hal. Ini bukti ada sesuatu di balik Big Bang, yang bertanggung jawab atas pembentukan segala yang bertaburan di langit, atas segala yang bernapas di muka bumi, yang saya akui Allah yang bertanggung jawab. Namun, saya juga tidak dapat menolak kalau sikap kritis manusia yang bergesekan dengan “firman tuhan” dalam kitab suci dan terbukti logis. Seperti mengapa sebaik apapun orang kafir tidak dapat masuk surga atau mengapa, bila tuhan memang berkehendak, membuat suatu bangsa terinjak oleh bangsa lainnya selama berabad-abad dan bila bangsa itu sudah tidak diinjak-injak lagi maka itulah tanda-tanda kiamat. (baca: Palestina)

Semua memang memungkinkan. Ilmu sains juga hanya hasil dari pemikiran dan pembuktian yang dianggap valid oleh manusia. Agama juga sesuatu yang hakiki, yang (mungkin) tidak diubah oleh tangan-tangan tertentu dan dan tidak berubah oleh perkembangan zaman. Sains ibarat air dan agama ibarat batu. Sains bersifat dinamis sedangkan agama bersifat solid. Bila sains hilang karena menguap (air) maka ia akan kembali menjadi air melalui proses hujan. Namun bila agama (batu) hilang karena hancur, sesungguhnya ia tidak hilang. Ia hanya pecah menjadi berkeping-keping. Itulah yang disebut perpecahan paham dalam suatu agama. Bonus, air dan batu sulit untuk menyatu.

Bisakah kita hidup berdampingan saja tanpa memusingkan mana yang paling benar, kawan? Urusi saja hidup kalian dan nafkahi keluarga kalian masing-masing dengan baik. Urusan kepercayaan memang hak privasi.

Untuk semuanya, mohon maaf lahir batin yaa dan khusus umat muslim, selamat hari lebaran!

-animus beserta keluarga dan jajaran kucing di rumah-

7/27/2014

Celebrating 5000 All-Time Pageviews

Berkah ramadan. Selain dapet ayam K*F*C dari LINE, pada akhirnya di penghujung bulan ramadan ini pageviews blog gue mencapai pada angka 5000. LIMA RIBU KUNJUNGAN MEN! ALHAMDULILLAH!!!!11! #sohappy #blessed #berkahramadan #liburlebaran #jokowimenang #ahmaddhanipotongweewee

Walaupun besar kemungkinan kalau setengah angka di atas dicetak oleh gue sendiri yang bolak-balik buka blog buat ngecek tulisan, tapi gue senang banget. Jadi, makasih buat yang sudah membaca diary basi dan resensi novel-novel berantakan yang sudah gue tulis. Terima kasih kepada pihak Google dan Blogger yang mempermudah orang untuk menulis dan dilihat orang banyak. Terima kasih kepada penulis-penulis yang nggak marah gue bikin resensi novel kalian dengan candaan yang garing. Terima kasih juga kepada orang-orang yang bersedia gue tulis ceritanya walau sebagian gue gak bilang-bilang juga. Pokoknya gue senang banget. MAKASIH YA GUYS!

Semenjak tahun 2011 gue bikin blog dengan isi curhatan anak SMP, ngomongin si ini dan si itu, zamannya di mana gue masih suka ngegosip (sampai sekarang sih masih, tapi lebih profesional lah), zaman di mana gue masih suka Justin Bieber, zaman di mana gue masih nulis SMS campur-campur angka dengan huruf, zaman di mana Super Junior masih beranggotakan sebelas orang (yang dua udah kabur), pokoknya zaman di mana pageviews gue benar-benar murni gue yang baca sendiri sampai sekarang akhirnya, all-time pageviews blog ini mencapai angka goceng.

Iya sih ini riya. Gak apa-apa lah emang gue sombong kok.

Prabowo sayang kuda. I love you semua.
Tapi gue di sini juga rada delusional. Gimana gue ngebuktiin kalau yang benar-benar berkunjung ke blog gue itu manusia beneran bukan bot atau hantu?

Yang penting gue bahagia.
Salam tiga jari!

Bonus tip: playlist wikiplayer blog gue
1. Recover - CHVRCHES
2. Two Weeks - Grizzly Bear
3. Next Year - Two Door Cinema Club
4. Debu-Debu Berterbangan - Pandai Besi
5. Vakansi - White Shoes & Couple Co.
6. Marching Band of Manhattan - Death Cab For Cutie
7. Mind Mischief - Tame Impala

Semoga berkenan.

7/14/2014

Review Ananta Prahadi

Judul novel         : Ananta Prahadi
Penulis               : Risa Saraswati
Penerbit             : Rakbuku
Tahun terbit        : 2014

Ananta Prahadi terbit pada bulan Mei dan novel tersebut baru sampai di tangan gue bulan Juli. Dalam kitab suci jemaah Sarasvamily, akan dianggap basi kalau lo baru membeli karya terbaru Risa dan Sarasvati setelah selang waktu berbulan-bulan dari tanggal peluncurannya. Sebelumnya, Risa pernah menulis sedikit gambaran dari Ananta Prahadi di blog pribadinya. Perlu waktu lama untuk menimbang-nimbang apakah novel Ananta Prahadi layak untuk dibeli atau tidak, karena hati kecil gue ragu novel karya Risa Saraswati yang keempat ini akan sebagus ketiga novel sebelumnya. Oh ya, Ananta Prahadi bukan termasuk trilogi Danur, melainkan cerita cinta hasil imajinasi penulisnya. Ini sebabnya mengapa gue sedikit ragu kalau Ananta Prahadi akan sesukses Danur, Maddah, atau Sunyaruri. Membludaknya novel fiksi cinta di pasaran membuat originalitas cerita cinta sangat langka. Namun, dugaan gue salah dan Risa Saraswati selalu bisa membawa kejutan terbaru di setiap karyanya.

Ada tiga tokoh utama di sini yaitu Tania, Ananta, dan Pierre. Tania adalah perempuan egois, angkuh, namun sensitif dan rapuh di dalamnya. Ia dianggap gila oleh lingkungannya karena emosinya yang mudah tersulut dan berani menyerang siapa saja yang tak sejalan dengannya. Meski begitu, sebenarnya Tania memiliki hati yang murni. Sedangkan Ananta adalah pria polos sahabat Tania yang suka bersih-bersih. Ananta berperan menjadi babysitter Tania sekaligus agen pemasaran lukisan-lukisan yang dibuat Tania. Dari penjualannya, Ananta memperkenalkan Tania kepada salah satu pembeli lukisannya yang bernama Pierre, laki-laki berdarah Prancis separuh Cigondewa yang merupakan kolektor seni. Tania jatuh cinta pada Pierre, namun Tania juga tidak bisa bohong kalau Ananta juga mencuri hatinya. Perlahan-lahan Pierre dan Ananta sama-sama menuntun Tania menjadi perempuan baik hati sepenuhnya.
Secara garis besar, konflik yang dihadapi tokoh utama adalah cinta segitiga. Tokoh antagonisnya adalah mental Tania yang tidak stabil sendiri. Pengupasan sifat Ananta dan Tania melalui cerita persahabatan keduanya menjadi pembukaan Ananta Prahadi. Kelucuan dan keluguan Ananta dalam bertutur kata membuat cerita tidak begitu datar dengan drama yang mendominasi, salut kepada orang Sunda yang selalu pandai dalam berkomedi. Pierre muncul di tengah cerita, menggantikan Ananta yang pergi sementara dari kehidupan Tania. Pola ceritanya adalah Ananta datang-Ananta hilang-Pierre datang-Pierre hilang, diulang terus hingga ditutup dengan kepergian salah satunya dari hidup Tania untuk selamanya.
Di segmen selanjutnya terdapat perkenalan tokoh Pierre melalui jalinan cinta dengannya dan Tania. Pierre adalah pria tampan yang mudah memahami karakter dan kemauan Tania. Dia tidak pernah mengeluh atas emosi Tania yang selalu berubah-ubah, tidak seperti pria yang banyak menggalau di internet dan menjadi insecure. Pierre seperti dewa yang dibuang ke dunia dari Olympus, sempurna dalam segi fisik maupun kepribadian.

Kelebihan Ananta Prahadi justru banyak terletak pada minor details-nya. Jalan ceritanya mungkin rada mainstream, tetapi keberagaman sifat dan karakter setiap tokoh yang kuat membuat ceritanya menjadi kaya. Tania yang kasar dan angkuh bertabrakan dengan Ananta yang sopan dan polos lalu bertabrakan lagi dengan Pierre yang tenang dan menghanyutkan, dua kata untuk penokohan novel ini: well balanced.
Ananta Prahadi juga mengambil latar yang beragam. Kebanyakan menggambarkan suasana kota Bandung yang sejuk dan asri, namun Ananta Prahadi juga mengambil latar negara Eropa yang jarang dibicarakan dalam dunia pernovelan: Rumania. Selain Rumania, Tania juga pergi ke Polandia, Prancis, dan Swiss. Suasana Eropa yang dingin dan romantis semakin mendukung hangatnya jalan cerita.

Hal lain yang menarik dari Ananta Prahadi adalah sisipan ciri khas yang Risa tidak dapat tinggalkan, yaitu hal mistis. Terdapat adegan di mana Ananta berceletuk kalau adiknya Pierre mirip kunti karena rambutnya panjang. Juga saat Tania pergi ke rumah Pierre, pohon beringin yang dipilih Risa untuk menghiasi halaman rumahnya. Lumrah sih pohon beringin bertengger di halaman rumah seseorang, tapi minor details ini langsung membuat gue nyambung sama ciri khas Risa yang mistis. Ciri khas lain yang turut tidak hilang dalam Ananta Prahadi ini adalah kedramatisan seorang Risa dalam menuturkan cerita.

Hampir sulit menemukan kekurangan dari Ananta Prahadi. Namun yang agak mengganggu gue adalah konflik yang klimaksnya kurang “ditarik”. Banyak konflik yang dibiarkan penuntasannya kurang selesai. Mirip hantu yang masih punya unfinished business lah kalau kata teh Risa *tsah*. Ditambah konflik yang cara penyelesaiannya masih bisa dimaksimalkan lagi. Tetapi cara Risa memainkan alur cerita begitu menyenangkan. Pembaca akan dibuat lelah mencapai puncak konflik dan dibuat meluncur dengan asyik seperti lelah menanjak bukit untuk main wahana flying fox.

Terakhir,  membaca Ananta Prahadi seperti menonton drama Korea; lucu, dramatis, romantis, dan sendu bercampur menjadi satu. Akhir cerita memang mudah ditebak, namun cara menutup Ananta Prahadi yang tidak bisa ditebak. Pokoknya bukan seperti apa yang kalian pikirkan dari membaca teaser di blog pribadi Risa. Gue beri nilai Liam Hemsworth dari keseluruhan angka kegantengan Pierre yang unlimited itu. Aduh apa sih ini. Pokoknya Ananta Prahadi cocok untuk kalian yang suka novel dengan alur cerita ringan dan romantis, meski karakter Tania sendiri jauh dari kata “ringan”.


Satu lagi, semoga kalian gak bingung sama resensi novel kali ini ya.

7/06/2014

Jalang

Namaku Mawar. Aku hidup dengan dua anak angkat yang masih kecil dan belum sekolah. Beratnya biaya hidup ibu kota membuatku harus bekerja mati-matian untuk menafkahi mereka berdua, membuatku harus menjadi ayah sekaligus ibu. Kami tinggal di suatu rusun yang biaya sewanya sembilan ratus ribu rupiah per bulan. Gaji bulananku tergantung seberapa keras aku bekerja, paling banyak hanya sampai dua juta. Pekerjaanku adalah menjadi buruh seni. Aku sebut buruh seni karena aku sering menghibur orang-orang.

Suci menjadi kata sifat subyektif sejak manusia memulai aturan kebebasan berpendapat. Namun aturan itu tak dapat mengalahkan aturan kuno sebelumnya, bahwa kotor adalah kata sifat yang mutlak dan hina sejak manusia diturunkan ke bumi. Barometer kesucian seseorang dapat diukur dari seberapa dalam ilmu keagamaan seseorang, banyaknya perbuatan baik yang tampak, dan kepatuhannya akan norma sosial dan susila. Masyarakat awam menggolongkanku dalam golongan orang-orang kotor dan hina.

Atau sekedar hidup dalam jalan yang sudah ditentukan dapat membuatmu menjadi suci.

Setelah dikelompokkan, aku bergaul dengan orang-orang yang sama-sama kotor. Orang-orang yang dipandang hanya mengutamakan urusan duniawi. Orang-orang yang dipandang tidak berguna dan mengganggu bagi sebagian orang. Tapi lama-kelamaan orang terbiasa dengan keberadaan kami. Kami dibiarkan tumbuh seperti lumut pada tembok. Perlahan-lahan kami juga menjadi bagian dari kehidupan orang-orang suci.

Padahal hanya karena mereka hidup dalam kabut stereotip, mereka bilang mereka suci.

Kedua anak angkatku memiliki nasib yang lebih menyedihkan. Mereka kutemukan kedinginan dan kelaparan pada malam hari di bawah jalan layang sehabis hujan. Aku membawa mereka ke kantor polisi untuk dicari keberadaan orang tua mereka, namun polisi tidak suka mendengarkan suara orang kotor. Akhirnya, aku berjanji untuk merawat mereka sampai mereka cukup dewasa untuk hidup sendiri.

Aku biasa bekerja pada malam hari. Orang-orang kotor memang lebih banyak beraktivitas pada malam hari. Aku bekerja menjadi penghibur banyak orang, mayoritas berjenis kelamin laki-laki. Hanya sekedar bernyanyi atau menemani orang-orang kesepian. Terkadang, bila yang kuhibur adalah laki-laki kaya dan dalam keadaan mabuk, dia seenaknya memberi uang dengan jumlah yang seenaknya pula kuminta.

Apakah ada jalang yang diangkat menjadi malaikat?

Anak angkatku sudah seperti anak kandungku sendiri. Aku bahagia telah menemukan mereka kedinginan pada malam itu, aku bahagia bisa merawat mereka, dan aku bahagia hari-hariku diisi dengan tawa anak-anak yang turut mencerahkan warna hidup ini. Semoga mereka sependapat denganku bahwa aku telah menjadi orang tua yang baik bagi mereka.

Dinasehati para pendeta sudah biasa. Dipukuli para pastur sudah biasa. Mereka mencoba memperbaikiku, tapi tak bisa. Mereka ingin diriku untuk tidak menjadi diriku, tapi tak bisa. Karena aku bukan plastisin dan aku bukan mainan rusak.

Siapa yang berani bernyanyi
Nanti akan dikebiri
Siapa yang berani menari
Nanti kan disuntik mati

Karena mereka paling suci
Lalu mereka bilang kami jalang
Karena kami, beda misi
Lalu mereka bilang kami jalang

(Jalang –
Efek Rumah Kaca)

Masa lalu akan terbang bersama abu dan hangus bersama arang. Potret diri yang lama tak akan pernah kuungkap lagi. Seorang laki-laki kebanggaan ayah yang akhirnya jatuh membuat malu keluarga. Namun aku tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Menjadi diri sendiri dan hidup di atas tanah kotor dengan kedua malaikat yang paling suci yang pernah diutus Tuhan.

Aku bahagia, sungguh aku bahagia walau hidup dalam udara yang membuatku sulit bernapas ini.

7/04/2014

Peranakan Konyol

Manusia tidak akan pernah kehabisan waktu untuk berlaku konyol. Kombinasikan kata bodoh dan tidak lazim maka kalian akan mendapatkan kata “konyol”. Bahkan beberapa orang di dunia ini harus meninggal dunia dengan cara konyol. Terus aja gue ngetik konyol sampai typo huruf Y keganti huruf T. Penempatan Y dan T di keyboard bersebelahan itu bukan kebetulan gue rasa karena salah ketik sedikit dari konyol bisa jadi kon…

Begini, populasi ateis semakin hari semakin banyak dan populasi teis semakin hari semakin berkurang. Ironisnya, orang-orang ateis ini kebanyakan adalah hasil ikut-ikutan. Di lingkungan sekolah gue baru segelintir orang yang mulai terbuka atas orientasi kepercayaannya. Ada yang blak-blakan bilang gak percaya agama dan tuhan. Ada lagi yang bilang gak percaya agama tapi percaya tuhan. Ini entah dia gak suka diatur aturan agama atau ingin enaknya aja gue gak ngerti. Tapi yasudahlah, terserah hidup dia. Mereka menyebut diri mereka sebagai deist, tidak beragama namun percaya adanya tuhan.

Dua bulan yang lalu gue sempat bertengkar dengan orang deist ini. Kita bertengkar bukan karena mendebatkan perbedaan kepercayaan tapi dia marah sama gue karena gue iseng bacain Alfatihah ke botol minum dia. Entah ide dari mana itu datangnya tapi gue melakukannya begitu saja bersama teman gue yang bernama Irva. Dalam cerita ini, tokoh antagonisnya sebut saja Korra.

Sebelumnya, Korra masuk dalam daftar teman terdekat gue. Dia cerita kalau dia bagian dari deist. Yang gue paham dari argumennya saat itu adalah dia percaya bahwa terdapat suatu mahluk yang menjadi motor penggerak alam semesta ini yang dia sebut tuhan tapi dia yakin kalau agama yang ada saat ini di dunia bukanlah ajaran yang dilahirkan dari mahluk tersebut. Waktu itu dia sempat bertanya, “Kalau orang non-Islam itu pasti masuk neraka gak sih?”

Di kartu identitasnya dia Islam, tapi dalam hatinya bukan Islam. Gue membalas pertanyaannya, “Karena gue orang Islam, gue sih diajarinnya orang yang non-Islam itu kafir dan orang kafir itu tempatnya di neraka setelah kiamat nanti.”

Sampai di situ dia cerita banyak hal ke gue tentang pandangan-pandangan dia akan ketuhanan. Apa yang gue tangkap dari pembicaraannya adalah dia bangga menjadi yang pertama di antara yang lain. Meski begitu, dalam hati gue menggebu-gebu pertanyaan, “Kenapa lo bangga terhadap sesuatu yang tidak layak untuk dibanggakan?”. Gue bilang hal itu tidak layak untuk dibanggakan karena terlalu klise dan preachy, ekstrimis. Lo mau agamanya Islam kek, Yahudi kek, pemuja kerang ajaib kek, akan terkesan arogan dan rasis kalau lo bangga, karena dari rasa bangga itu akan muncul rasa meremehkan agama yang lain. Ditambah lagi gak ada yang peduli lo percaya sama apa, keimanan itu urusan individual.

Kita lompat ke adegan di mana gue dan Irva membacakan surat Alfatihah ke botol minumannya. Entah kenapa, kelakuan kita berdua membuat dia marah. Kemarahannya itu melepaskan tanda tanya besar, kenapa?

Alasannya tidak sederhana:
“Gue gak suka ya lo main-main kayak gitu. Kalo gue minum itu terus gue mati gimana? Lo mau buktiin apa sih? Kalo lo religius? Mau nyindir gue yang non religius?”

Satu kata yang langsung muncul di benak gue saat itu: konyol.

Gak pernah gue bertemu dengan orang yang beranggapan kalau dia akan mati setelah minum air yang dibacakan doa. Gue gak masukin racun ataupun bahan kimia berbahaya ke dalam botol minum dia, tapi kenapa? Dan gue melakukan hal itu jelas-jelas murni bercanda tanpa intensi menyindir dia yang non religius. Ini keterlaluan. Seperti lo menghadapi anak yang baru menginjak masa remaja dan dia baru menemukan jati dirinya yang semu. Bangga-bangga childish.

Gue menjelaskan segalanya panjang lebar, mulai dari pandangan gue tentang sikapnya yang kekanakan sampai pandangan gue yang gak pernah memandang rendah suatu kepercayaan. Pada akhirnya, dia menyerah dengan cara yang konyol pula: pura-pura bego. Argumen gue terbukti lebih kuat ketimbang argumen dia. Gue hidup dan tumbuh dalam internet, guys. Internet penuh orang ateis yang sering bikin guyonan keagamaan yang seringkali menyakitkan. Tapi kita semua fine aja dengan itu, bahkan kita saling berbalas menghina ateis dengan guyonan yang gak kalah menyakitkan. Standar hina-menghina dalam kemasan jokes itu biasa, apalagi gue yang tanpa niat menghina atau melukai perasaan dia akan orientasi ketuhanan dia?

Ceritanya, si Korra ini hidup di tengah-tengah lingkungan metropolitan. Dia sering bergaul dengan orang-orang, melancong ke tempat-tempat yang sering disinggahi kaum borjuis, kedua orang tuanya pun membiarkan dia hidup dengan gaya hidup konsumtif. Dengan lingkungannya yang seperti itu, seharusnya tingkat kecerdasannya juga mencapai standar modern. Dan gue gak percaya, orang yang hidup dalam arus globalisasi seperti dia bisa iritasi karena hal yang dianggap orang modern sebagai hal yang biasa.

Saking pluralnya Jakarta ini, kemungkinan muncul jenis warganya yang aneh-aneh adalah seratus persen.

Setelah pertengkaran tanpa pertumpahan darah tersebut terlampaui, kita gak pernah komunikasi lagi, baik gue maupun Irva. Menyebalkannya adalah, dia cerita ke semua orang terdekatnya. Masalahnya, orang terdekatnya adalah akses sosial gue juga. Gue dan Irva kecolongan start dari dia yang udah cerita ke banyak pasang telinga. Berdasarkan narasumber yang terpercaya, dia cerita tanpa menceritakan bagian-bagian yang terbukti sikapnya dia adalah salah. Gue dan Irva sama-sama sepakat untuk membiarkan Korra meneruskan sikapnya itu karena kita sama-sama percaya suatu hari dia akan menengok ke belakang dan malu.

Dari sini, gue belajar makna kalimat some better left unsaid. Biar orang yang menilai ceritanya. Kalau dia waras, gue yakin dia juga akan berdecak kagum akan kekonyolannya.

Bercanda gue dinilai keterlaluan setelah Korra gak suka kalau air minumnya dibacakan doa. Coba kalau dia biasa aja, masalah selesai. Lagipula, kalian mikir deh, ada gak sih rekam jejak air doa (agama manapun) yang menyebabkan kematian?


Salam super.