7/06/2014

Jalang

Namaku Mawar. Aku hidup dengan dua anak angkat yang masih kecil dan belum sekolah. Beratnya biaya hidup ibu kota membuatku harus bekerja mati-matian untuk menafkahi mereka berdua, membuatku harus menjadi ayah sekaligus ibu. Kami tinggal di suatu rusun yang biaya sewanya sembilan ratus ribu rupiah per bulan. Gaji bulananku tergantung seberapa keras aku bekerja, paling banyak hanya sampai dua juta. Pekerjaanku adalah menjadi buruh seni. Aku sebut buruh seni karena aku sering menghibur orang-orang.

Suci menjadi kata sifat subyektif sejak manusia memulai aturan kebebasan berpendapat. Namun aturan itu tak dapat mengalahkan aturan kuno sebelumnya, bahwa kotor adalah kata sifat yang mutlak dan hina sejak manusia diturunkan ke bumi. Barometer kesucian seseorang dapat diukur dari seberapa dalam ilmu keagamaan seseorang, banyaknya perbuatan baik yang tampak, dan kepatuhannya akan norma sosial dan susila. Masyarakat awam menggolongkanku dalam golongan orang-orang kotor dan hina.

Atau sekedar hidup dalam jalan yang sudah ditentukan dapat membuatmu menjadi suci.

Setelah dikelompokkan, aku bergaul dengan orang-orang yang sama-sama kotor. Orang-orang yang dipandang hanya mengutamakan urusan duniawi. Orang-orang yang dipandang tidak berguna dan mengganggu bagi sebagian orang. Tapi lama-kelamaan orang terbiasa dengan keberadaan kami. Kami dibiarkan tumbuh seperti lumut pada tembok. Perlahan-lahan kami juga menjadi bagian dari kehidupan orang-orang suci.

Padahal hanya karena mereka hidup dalam kabut stereotip, mereka bilang mereka suci.

Kedua anak angkatku memiliki nasib yang lebih menyedihkan. Mereka kutemukan kedinginan dan kelaparan pada malam hari di bawah jalan layang sehabis hujan. Aku membawa mereka ke kantor polisi untuk dicari keberadaan orang tua mereka, namun polisi tidak suka mendengarkan suara orang kotor. Akhirnya, aku berjanji untuk merawat mereka sampai mereka cukup dewasa untuk hidup sendiri.

Aku biasa bekerja pada malam hari. Orang-orang kotor memang lebih banyak beraktivitas pada malam hari. Aku bekerja menjadi penghibur banyak orang, mayoritas berjenis kelamin laki-laki. Hanya sekedar bernyanyi atau menemani orang-orang kesepian. Terkadang, bila yang kuhibur adalah laki-laki kaya dan dalam keadaan mabuk, dia seenaknya memberi uang dengan jumlah yang seenaknya pula kuminta.

Apakah ada jalang yang diangkat menjadi malaikat?

Anak angkatku sudah seperti anak kandungku sendiri. Aku bahagia telah menemukan mereka kedinginan pada malam itu, aku bahagia bisa merawat mereka, dan aku bahagia hari-hariku diisi dengan tawa anak-anak yang turut mencerahkan warna hidup ini. Semoga mereka sependapat denganku bahwa aku telah menjadi orang tua yang baik bagi mereka.

Dinasehati para pendeta sudah biasa. Dipukuli para pastur sudah biasa. Mereka mencoba memperbaikiku, tapi tak bisa. Mereka ingin diriku untuk tidak menjadi diriku, tapi tak bisa. Karena aku bukan plastisin dan aku bukan mainan rusak.

Siapa yang berani bernyanyi
Nanti akan dikebiri
Siapa yang berani menari
Nanti kan disuntik mati

Karena mereka paling suci
Lalu mereka bilang kami jalang
Karena kami, beda misi
Lalu mereka bilang kami jalang

(Jalang –
Efek Rumah Kaca)

Masa lalu akan terbang bersama abu dan hangus bersama arang. Potret diri yang lama tak akan pernah kuungkap lagi. Seorang laki-laki kebanggaan ayah yang akhirnya jatuh membuat malu keluarga. Namun aku tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Menjadi diri sendiri dan hidup di atas tanah kotor dengan kedua malaikat yang paling suci yang pernah diutus Tuhan.

Aku bahagia, sungguh aku bahagia walau hidup dalam udara yang membuatku sulit bernapas ini.

7/04/2014

Peranakan Konyol

Manusia tidak akan pernah kehabisan waktu untuk berlaku konyol. Kombinasikan kata bodoh dan tidak lazim maka kalian akan mendapatkan kata “konyol”. Bahkan beberapa orang di dunia ini harus meninggal dunia dengan cara konyol. Terus aja gue ngetik konyol sampai typo huruf Y keganti huruf T. Penempatan Y dan T di keyboard bersebelahan itu bukan kebetulan gue rasa karena salah ketik sedikit dari konyol bisa jadi kon…

Begini, populasi ateis semakin hari semakin banyak dan populasi teis semakin hari semakin berkurang. Ironisnya, orang-orang ateis ini kebanyakan adalah hasil ikut-ikutan. Di lingkungan sekolah gue baru segelintir orang yang mulai terbuka atas orientasi kepercayaannya. Ada yang blak-blakan bilang gak percaya agama dan tuhan. Ada lagi yang bilang gak percaya agama tapi percaya tuhan. Ini entah dia gak suka diatur aturan agama atau ingin enaknya aja gue gak ngerti. Tapi yasudahlah, terserah hidup dia. Mereka menyebut diri mereka sebagai deist, tidak beragama namun percaya adanya tuhan.

Dua bulan yang lalu gue sempat bertengkar dengan orang deist ini. Kita bertengkar bukan karena mendebatkan perbedaan kepercayaan tapi dia marah sama gue karena gue iseng bacain Alfatihah ke botol minum dia. Entah ide dari mana itu datangnya tapi gue melakukannya begitu saja bersama teman gue yang bernama Irva. Dalam cerita ini, tokoh antagonisnya sebut saja Korra.

Sebelumnya, Korra masuk dalam daftar teman terdekat gue. Dia cerita kalau dia bagian dari deist. Yang gue paham dari argumennya saat itu adalah dia percaya bahwa terdapat suatu mahluk yang menjadi motor penggerak alam semesta ini yang dia sebut tuhan tapi dia yakin kalau agama yang ada saat ini di dunia bukanlah ajaran yang dilahirkan dari mahluk tersebut. Waktu itu dia sempat bertanya, “Kalau orang non-Islam itu pasti masuk neraka gak sih?”

Di kartu identitasnya dia Islam, tapi dalam hatinya bukan Islam. Gue membalas pertanyaannya, “Karena gue orang Islam, gue sih diajarinnya orang yang non-Islam itu kafir dan orang kafir itu tempatnya di neraka setelah kiamat nanti.”

Sampai di situ dia cerita banyak hal ke gue tentang pandangan-pandangan dia akan ketuhanan. Apa yang gue tangkap dari pembicaraannya adalah dia bangga menjadi yang pertama di antara yang lain. Meski begitu, dalam hati gue menggebu-gebu pertanyaan, “Kenapa lo bangga terhadap sesuatu yang tidak layak untuk dibanggakan?”. Gue bilang hal itu tidak layak untuk dibanggakan karena terlalu klise dan preachy, ekstrimis. Lo mau agamanya Islam kek, Yahudi kek, pemuja kerang ajaib kek, akan terkesan arogan dan rasis kalau lo bangga, karena dari rasa bangga itu akan muncul rasa meremehkan agama yang lain. Ditambah lagi gak ada yang peduli lo percaya sama apa, keimanan itu urusan individual.

Kita lompat ke adegan di mana gue dan Irva membacakan surat Alfatihah ke botol minumannya. Entah kenapa, kelakuan kita berdua membuat dia marah. Kemarahannya itu melepaskan tanda tanya besar, kenapa?

Alasannya tidak sederhana:
“Gue gak suka ya lo main-main kayak gitu. Kalo gue minum itu terus gue mati gimana? Lo mau buktiin apa sih? Kalo lo religius? Mau nyindir gue yang non religius?”

Satu kata yang langsung muncul di benak gue saat itu: konyol.

Gak pernah gue bertemu dengan orang yang beranggapan kalau dia akan mati setelah minum air yang dibacakan doa. Gue gak masukin racun ataupun bahan kimia berbahaya ke dalam botol minum dia, tapi kenapa? Dan gue melakukan hal itu jelas-jelas murni bercanda tanpa intensi menyindir dia yang non religius. Ini keterlaluan. Seperti lo menghadapi anak yang baru menginjak masa remaja dan dia baru menemukan jati dirinya yang semu. Bangga-bangga childish.

Gue menjelaskan segalanya panjang lebar, mulai dari pandangan gue tentang sikapnya yang kekanakan sampai pandangan gue yang gak pernah memandang rendah suatu kepercayaan. Pada akhirnya, dia menyerah dengan cara yang konyol pula: pura-pura bego. Argumen gue terbukti lebih kuat ketimbang argumen dia. Gue hidup dan tumbuh dalam internet, guys. Internet penuh orang ateis yang sering bikin guyonan keagamaan yang seringkali menyakitkan. Tapi kita semua fine aja dengan itu, bahkan kita saling berbalas menghina ateis dengan guyonan yang gak kalah menyakitkan. Standar hina-menghina dalam kemasan jokes itu biasa, apalagi gue yang tanpa niat menghina atau melukai perasaan dia akan orientasi ketuhanan dia?

Ceritanya, si Korra ini hidup di tengah-tengah lingkungan metropolitan. Dia sering bergaul dengan orang-orang, melancong ke tempat-tempat yang sering disinggahi kaum borjuis, kedua orang tuanya pun membiarkan dia hidup dengan gaya hidup konsumtif. Dengan lingkungannya yang seperti itu, seharusnya tingkat kecerdasannya juga mencapai standar modern. Dan gue gak percaya, orang yang hidup dalam arus globalisasi seperti dia bisa iritasi karena hal yang dianggap orang modern sebagai hal yang biasa.

Saking pluralnya Jakarta ini, kemungkinan muncul jenis warganya yang aneh-aneh adalah seratus persen.

Setelah pertengkaran tanpa pertumpahan darah tersebut terlampaui, kita gak pernah komunikasi lagi, baik gue maupun Irva. Menyebalkannya adalah, dia cerita ke semua orang terdekatnya. Masalahnya, orang terdekatnya adalah akses sosial gue juga. Gue dan Irva kecolongan start dari dia yang udah cerita ke banyak pasang telinga. Berdasarkan narasumber yang terpercaya, dia cerita tanpa menceritakan bagian-bagian yang terbukti sikapnya dia adalah salah. Gue dan Irva sama-sama sepakat untuk membiarkan Korra meneruskan sikapnya itu karena kita sama-sama percaya suatu hari dia akan menengok ke belakang dan malu.

Dari sini, gue belajar makna kalimat some better left unsaid. Biar orang yang menilai ceritanya. Kalau dia waras, gue yakin dia juga akan berdecak kagum akan kekonyolannya.

Bercanda gue dinilai keterlaluan setelah Korra gak suka kalau air minumnya dibacakan doa. Coba kalau dia biasa aja, masalah selesai. Lagipula, kalian mikir deh, ada gak sih rekam jejak air doa (agama manapun) yang menyebabkan kematian?


Salam super.

7/03/2014

Why Bara Why?

Teman-teman, semesta alam sedang berulah padaku. Aku merasa hampa dan galau.

Oke jadi gini, sekarang tepat pukul 00:52 dini hari dan tiba-tiba gue mendapatkan ilham untuk menulis. Sebenarnya tulisan ini bakal absurd kalau lo tipe orang yang gampang ilfil, tapi biarkanlah tuan putri menulis diary sekali lagi dalam blog ini.

(Iya emang sih lima puluh persen isi blog ini tuh cuma curhatan gue doang, but whateva)

Gue merasa kalau takdir memang sudah ditulis Tuhan sejak kita tercipta dalam perut ibu dan tidak bisa diganggu-gugat, guys. Orang-orang yang bilang takdir dapat diubah hanyalah orang-orang putus asa yang takut masa depannya gelap dan orang-orang yang kerja di Disney. Kalimat Kalian yang menentukan takdir kalian sendiri itu bullcrap.

Kenapa gue bisa bilang begitu? Karena gue golongan orang yang putus asa setengah realistis.

Barusan gue baca tweet teman gue yang promosiin posting Blogger terbaru doi. Sebut aja Bara, karena memang nama aslinya Bara. Gak lama kemudian dia nge-tweet lagi, yang menyatakan kalau dia senang banget sama orang-orang yang udah bersedia berkunjung ke blog-nya. Katanya sih, pageviews-nya sampai ribuan. Gokil gak?

Sahabatku yang dimuliakan Tuhan, singkatnya, tumbuh rasa iri di hatiku ini.

Gue kasih tau aja sih, bikin suatu post susahnya minta ampun loh bro. Harus rajin cek gramatika dan ejaan yang benar. Belum lagi ide cerita yang bermutu. Teman gue aja yang bolak-balik juara lomba cerpen se-DKI sejak SMP, gak pernah pageviews posting-nya mencapai angka seribu. Sedangkan teman gue si Bara ini, yang ceritanya cuma kesehariannya dia walau menarik bisa sampai laris pengunjung. Gue heran, dia sewa buzzer kali ya?

Bukan gak mungkin, jasa buzzer belakangan ini lagi hits karena banyak dipakai oleh tim sukses capres masing-masing.

Dan gue, orang biasa yang susah payah berpikir untuk memunculkan ide samapai bawa-bawa laptop ke kamar mandi, ujung-ujungnya paling banyak pageviews suatu posting itu cuma 42 dan followers cuma mentok di angka 8.

Emang sih, si Bara ini ketua eskur KIR di sekolah gue dan dia cukup populer di kalangan adik kelas (karena jumlah anggota KIR dari kelas sepuluh udah kayak jumlah demonstran yang minta Soeharto turun jabatan) sedangkan gue hanya anggota eskur teater yang eskurnya sendiri masih semu di mata kebanyakan orang. Diperparah lagi dengan gue yang keberadaannya masih sering dipertanyakan orang, apakah gue benar-benar ada atau hanya mitos belaka. Mungkin ini faktor pendukung utama.

Bara juga pintar. Umurnya setara dengan adik gue tapi tingkat pendidikannya setara dengan gue. Dia masih berumur lima belas tahun dan sudah menduduki bangku kelas dua belas. Dia juga luas wawasan, terbukti dari beberapa posting blog dia yang menggunakan kosakata yang gue gak tau sampai gue cari di KBBI gak ada artinya, namun indah. Intinya, dia muda, berbakat, dan populer.

Sedangkan gue? Semester dua di kelas sebelas ini gue menduduki peringkat 24. Sebelumnya gue peringkat 17. Lompatnya jauh pisan kan? Terima kasih kepada sikap idealisme dan arogansi gue. Pelajaran untuk kita semua: jangan pernah ngelawan guru kalau nilai kalian mau selamat.

Satu lagi. Tampang mukanya dia jauh lebih good looking daripada wajah gue, karena penampilan gue memang di bawah standar. Walau beda gender tapi yaa lo bisa bedain mana yang lebih majestic antara manusia jantan modern dengan anoa betina hamil tujuh bulan kan?

Begitulah. Mungkin ada benarnya orang zaman dulu yang masih percaya uka-uka lalu mereka dapat meramalkan siapa yang akan menjatuhkan firaun hanya dari melihat garis tangannya. Intinya, garis masa depan seseorang sudah dibentuk sebelum mereka lahir. Nahas, orang-orang jelek tidak multi talenta kebanyakan kecerahan masa depannya diragukan. Meski Islam mengajarkan untuk tidak percaya ramalan, maka dari itu gue berharap yang baca posting ini non Islam semua biar gue gak di-bash.

Tapi gue jadi ingat kata Alitt Susanto bahwa (intinya) seseorang merasa dirinya kurang beruntung karena dia belum mengenal jati dirinya dan belum menemukan bakat aslinya atau belum dapat menggunakan bakatnya secara benar. Mungkin gue belum menggunakan bakat gue dengan benar jadi gue belum percaya diri karena gue gak punya sesuatu untuk dibanggakan. Yah, masih ada harapan buat gue untuk bertahan hidup ke depannya. Optimis, bismillah.

Oh ya, selain masuk dalam golongan pesimis agak realistis, gue juga masuk dalam golongan orang-orang bipolar.


Segitu aja sih, sebentar lagi sahur dan gue harus tidur. Oh ya, tiba-tiba gue kepikiran mungkin maksud dari pageviews sampai seribu itu all time pageviews kali ya. Jadi pageviews sejak dia buat blog sampai sekarang. Kalau begitu sih.. Pageviews gue masih lebih banyak. Maaf ya, Bara, rakyat jelata selalu suka menjelekkan kaum priayi untuk bahan hiburan.

Selamat Ramadan bagi seluruh muslim!

Tanpa Lawan Dialog

Ibu?
Lihatlah ibu, rumah kita terbelah dua.
Apa kita bisa memperbaikinya?
Ibu tak perlu membeli rumah lagi.
Rumah ini masih bisa diperbaiki.
Ibu kenapa kau tidak membenarkan rumahnya?
Ibu, siapa pria itu?
....
Ayah!
Ibu telah diculik!
Ayah lakukanlah sesuatu!
Eh? Ibu tidak diculik?
Lalu ia pergi dengan siapa?
Ia akan pulang kan?
Ayah, rumah kita terbelah dua.
Bisakah kita memperbaikinya?
Ayah bicaralah.
Ayah?
Ayah mengapa ibu belum pulang?
Ayah?
Ayah, dadaku mulai sesak, bisakah kita segera memperbaiki rumahnya?
Ayah, kepalaku mulai sakit, bisakah kita segera memperbaiki rumahnya?
Ayah?
***
Hai.
Halo?
Aku hanya ingin kau tahu bahwa..
Jariku sudah busuk kuhisapi terus.
Mataku sudah kering karena menangis.
Lidahku sudah putus kupakai berteriak.
Punggungku sudah patah, lelah.

Aku hanya ingin kau tahu.
Aku bukan tersiermu.
Apa luka ini terdengar sunyi di telingamu?
Dengarlah, dia ingin bicara padamu.
Dia menggonggong.
Ah, dia membasahi teleponnya lagi.
Sudah dulu ya.
Aku akan kembali lagi.
***
Aku bahagia kau ada, bintang.
Aku di sini, selalu akan di sampingmu.
Selamanya.
Janji kau akan terus bersinar, ya?
Aku bisa tersesat tanpa cahayamu.
Benar, sentuh bibirku.
Bibirmu terasa hangat dan manis di lidahku.
***
Halo ayah?
Kau masih di sana kan?
Lukaku sudah bungkam.
Ia sudah pergi.
Mataku sudah bulat kembali.
Jemariku sudah segar kembali.
Lidahku sudah tersambung kembali.
Punggungku sudah utuh kembali.
Dengarkah engkau?
Dunia bersorak akan aku dan bintang.
Apa ibu sudah pulang?
Ayah?
Ayah, bila kau sudah dapat berbicara kembali telpon aku, oke?
Sampai jumpa.
***
Selamat datang di semesta alam, matahari.
Aku di sini, selalu akan di sampingmu.
Selamanya.
Janji kau akan terus bersinar ya?
Aku bisa mati tanpa cahayamu.
Benar, genggam jemariku.
Jemarimu mungil sekali, mereka indah.
Mereka persis seperti punyaku.
***
Hai ayah.
Aku hanya ingin bilang bahwa..
Rumah itu tak perlu diperbaiki lagi.
Aku sudah punya yang baru.
Kau boleh tinggal di rumah baruku, bersama bintang dan matahari.
Kami di sini bahagia, aku bahagia dengan keluarga kecilku.
Ayah, aku merindukanmu..

Bicaralah sedikit saja..

5/28/2014

Resensi Abatoar


Sebenarnya saya bukan penggemar novel horror. Terakhir kali saya baca novel horror itu Sunyaruri, dan novel horror yang pernah saya baca tercatat cuma tiga; Danur, Maddah, dan Sunyaruri karya Risa Saraswati (semuanya). Namun sekitar 3 minggu yang lalu saya mendapat gratisan dari @kisahhorror yaitu novel horor slasher berjudul Abatoar. Jam tangan dalam ciki Jag*uar, iseng-iseng ikut kuis ternyata malah masuk dalam kelompok pemenang. Novel datang 2 hari setelah pengumuman pemenang kuis.

Novel Abatoar diterbitkan oleh Mediakita tahun 2014 ini. Bercerita tentang kumpulan pembunuh berdarah dingin yang terdiri dari lima manusia dengan watak yang berbeda-beda dan keseharian mereka. Mulai dari Mary; perempuan Tiongkok kaya raya, Bayu; pemuda penderita sakit maag dan sedikit emo (karena kalau galau karena sakit (perut) selalu sayat-sayat badan... orang), Patra; alumnus rumah sakit jiwa, Wina; mantan istri dari seorang pria pemarah, dan Mas Moh; laki-laki tua yang mencintai daging manusia. Kelompok mereka bubar setelah salah satu dari mereka melanggar peraturan yang telah disusun bagi anggotanya.

Suksesnya kehancuran kerajaan Abatoar itu disebabkan oleh seorang mahasiswi yang skripsinya belum selesai.

Alana, masuk dalam kategori orang sukses yang tidak lulus kuliah setelah Bill Gates, Steve Jobs, Felix Kjellberg, dan orang sukses lainnya yang belum pernah mencicipi toga karena masih menyandang status mahasiswi. Sukses mengehentikan perjalanan Mas Moh dan kuali berdarahnya.

*aggressively clapping*
*disertai tatapan jijik pembaca yang menganggap lelucon ini begitu garing*

Jadi, enam tokoh utama dengan karakter berbeda yang sama-sama keren. Hal keren lainnya dari novel ini adalah plot cerita yang antimainstream. Abatoar menjadi angin segar di dalam dunia pernovelan Indonesia ini yang banyak dikerumuni novel cinta murahan dan fanfiction penggemar boyband Korea. Membaca Abatoar layaknya menaiki sebuah roller coaster, deg-degan namun seru, mengerikan namun meninggalkan rasa ingin lagi setelahnya. Membayangkan bagaimana tumpukan bangkai manusia dalam "bungker" dan "dapur" Mas Moh berhasil membuat saya terdikte bahwa bukan tidak mungkin orang-orang dalam lingkar pergaulan saya sama gilanya seperti mereka berlima. Jijik, kagum, merinding, takut, semua bercampur jadi satu. Mas Moh menjadi tokoh favorit saya karena menurut saya dia yang paling kuat karakternya. Di dalam novel terdapat cetakan ilustrasi Mas Moh penuh dalam satu halaman yang begitu seram dan membuat saya kesusahan membaca halaman di sampingnya karena harus menutupi wajahnya yang jelek.

Serius loh admin, saya benci sekali ilustrasi wajah Mas Moh di sana.

Terlepas dari segala pujian di atas, novel keren ini juga tak luput dari kekurangan. Terdapat beberapa salah ketik (atau bahasa sekarangnya typo), pengandaian kata yang digunakan juga hiperbola. Kalimat-kalimat yang hiperbola menurunkan ke-intens-an jalannya cerita, yang tadinya adegan serius tapi jadi berubah menjadi seperti adegan dalam film-film Bolywood. Begitulah, pendapat saya sih agak dramatis. Kurang cocok untuk jalan cerita yang mengerikan.
Dan Mas Moh juga yang menambah poin negatif penilaian novel ini.
Mas Moh selalu bikin gigit bibir. Karena sadis iya, karena gemas juga iya. Alana disekap Mas Moh hampir seminggu, katanya kalau dijagal terburu-buru cepat busuk dagingnya. Memangnya Mas Moh gak kenal teknologi zaman sekarang yang disebut kulkas dan freezer ya? Saat Mas Moh menyiksa Alana sehabis dia mencoba menelpon polisi, pikiran saya berteriak, "Mas kenapa Alana-nya gak dibunuh cepat-cepat maaas keburu kiamaaatt errgghh"

*tombol "Tekan bila anda merasa ingin melempar botol minuman ke resensator" di sini*

Keseluruhannya Abatoar masih kece. Novel ini berlabel 18+, yang artinya anak kecil di bawah umur 18 belum boleh membacanya. Padahal saya aja belum foto KTP tapi sudah berani baca buku ini. I also like to live dangerously.

Saya beri nilai 8.5 dari 10 potongan kaki manusia untuk Abatoar.

Sukses terus, kisahhorror. Ditunggu karya-karya berikutnya.

4/26/2014

Salah

Umur gue baru menginjak 17 September mendatang. Orang-orang bilang umur 17 adalah masa terakhir gue menjadi remaja. Gue akan dapat KTP, SIM, dan gue boleh ikut serta pemilu secara legal di tahun itu juga (sayangnya pemilu terakhir bulan Juli). Gue merasa, di hari-hari menjelang 17 ini, banyak cerita yang membuat gue harus paham dengan sifat orang lain, gak selamanya gue akan terus dipahami. Teman-teman gue yang menyebalkan, walau pada awalnya gue sulit menerima mereka, lama-kelamaan waktu yang membuat gue harus menerima dengan ikhlas sifat-sifat mereka. Setidaknya, satu langkah menjadi dewasa.

Gue sekarang mengerti, kriteria dewasa bukan berapa banyak ulang tahun lo yang sudah lo rayakan, tapi bagaimana cara lo berpikir dan cara lo bertindak. Mungkin di tahun lalu pikiran gue memang sudah matang namun tidak dengan tindakan gue. Gue yang punya emosi kurang stabil cenderung senang mengambil keputusan dengan tergesa-gesa dan cepat mengambil resiko. Gue juga yakin remaja pada umumnya mengalami hal yang sama seperti gue, setidaknya sekali dalam umur 16 mereka. Komentar-komentar negatif yang membuat gue terlempar jauh ke awal dan harus memperbaiki semuanya. Things didn’t go so well lately, but that’s just because Allah has bigger plan for me. Gue mengaku kalau gue sering salah, tapi gue bahagia karena gue pernah salah gue jadi belajar untuk meminta maaf. Saying sorry is a big deal for me. My mind is deep, but my ego is deeper. Itu sebabnya kenapa banyak yang gak suka gue di tahun ini. Kalau tahun lalu gue di-bully, tahun ini gue justru mem-bully banyak perasaan orang.

Gue tipe orang yang “sadar-sadar bego”. Gue sadar gue salah, tapi gue sulit untuk minta maaf ke seseorang. Meski umur gak ada yang tahu, di umur yang masih sangat muda ini, gue yakin perjalanan gue masih panjang untuk belajar mengendalikan keegoisan gue sendiri dan hal-hal lain yang menjadi api hitam di pikiran maupun hati gue. Gue sangat bersyukur telah dilahirkan di tempat yang setiap manusianya punya warna bervariasi. 

Ada yang lucu, ada yang menyebalkan, ada yang pemarah, ada yang penyabar, ada juga yang bijak. Gue suka semuanya, orang sombong sekalipun. Ya, orang sombong adalah tipe orang yang menempati nomor pertama di urutan orang-orang yang gue benci. Di nomor dua ada orang egois dan di nomor tiga ada orang munafik. Setelah bercengkrama dengan mentor bahasa gue, Weda selama 3 jam, gue diberi banyak pengetahuan tentang kehidupan ini. Gue adalah salah satu penggemar di antara ratusan penggemarnya. Umur beliau terpaut 38 tahun dengan gue. Dia banyak bercerita tentang pengalaman-pengalaman pribadinya yang memaksakan dia untuk berhenti menjadi anak nakal dan memulai untuk menjadi berguna bagi orang-orang di sekitarnya. Gue akan selalu ingat kata dia, mulailah untuk mengendalikan ego kita sendiri. Kalau kita menjadi pribadi yang positif pasti respon orang juga akan positif.

Gue sudah meminta maaf kepada teman gue yang pernah gue jutekin dan cuekin karena suatu hal. Gue sudah meminta maaf ke guru sosiologi gue karena gue suka berkata lancang ke dia dan suka bicara yang negatif di balik punggung dia. Gue juga sudah meminta maaf kepada teman-teman baru gue, yang saat ini gue masih proses adaptasi, kalau gue pernah berlaku kasar dan dengan sindiran-sindiran gue yang gak enak di telinga dan hati. Being evil is not so me. I could probably be the devil’s advocate but a bloody route somehow cannot suite me, so I go back to the beginning and choose the bright and clean route instead. Meskipun suatu saat gue bisa terjatuh ke jalan gelap kembali, tapi sepertinya sih jalan gelap bete sama gue karena gue terlalu lemah untuk menjadi orang jahat hahaha.

Namanya juga Libra, semua serba seimbang. Baik dan buruknya seimbang, dosa dan pahalanya juga seimbang, semoga saja nanti gue di akhirat gak di ambang neraka dan surga juga biar seimbang.

Ini dia pemikiran gue kenapa mulai bayak orang yang gak suka sama gue:
1. Pembawaan bicara gue cenderung nyelekit. Kadang gue dengan gamblangnya mengkritik seseorang dengan tajam.
2. Gue suka menyembunyikan rasa benci terhadap seseorang sendirian, sehingga beberapa orang yang terlalu sensitif yang bisa merasakannya menganggap kalau gue sudah membelakangi mereka dan mulai membuat tembok di sekitar mereka, takut-takut kalau gue akan berakhir menusuk mereka dari belakang.
3. Gue sulit mengerti perasaan orang lain. Paham memang iya tapi pelaksanaannya gue gak peduli sama apa yang orang rasakan bila menurut gue itu salah, dan gue merasa gak seharusnya gue memaksakan pendapat gue terhadap orang lain.
4. Arogansi. Gue akui gue dapat melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut. Tapi karena itu justru gue menyalahgunakan kelebihan gue dengan seenaknya mencap orang negatif bila pandangan yang mereka ambil itu negatif. Gue akui juga gue pintar dalam memahami situasi. Lagi-lagi gue salahgunakan untuk menjatuhkan orang lain dengan membaca kelemahan orang untuk menyerang.
5. Terus berpikiran negatif. Bukannya waspada malah bikin masalah baru.


Iya, ini ajang curhat. Beberapa pemikiran yang belakangan ini selalu lalu-lalang di pikiran gue. Manalagi, game Pokemon di handphone gue gak sengaja gue uninstall. Udah ada Rayquaza, Groudon, Kyogre, dan baru saja dapat Latios. Ini mungkin hukuman dari Allah.

Salam Curhat.