11/04/2013

Moving Up!

Since it is so hard to customize my page in blogger, i decided to move my things up to my old tumblr page. But wait! I'm not gonna leave this page, i'll be just more intense to upload things in my tumblr since reading a story in tumblr is super boring. It's full of crap, remembering the old times when i was super lame.
...Well i'm still lame but at least my lame-o-meter is decreasing a bit...
*"boo" echoing all over the place*
Well it also make me easier to share my fangirl stuffs :P
JK, i'm not gonna fangirl (much), i swear :)
So please, kindly visit my new home, tumblr formatted :D
http://anonimanimus.tumblr.com/

10/12/2013

Asha

Gue cerita ini karena belum pernah gue kayak gini sebelumnya. Terserah kalo kalian mau bilang gue kekanakan tapi yaa daripada gue tumbuh dewasa lebih cepat mending gue bersikap apa adanya sesuai dengan umur gue sekarang. Ditambah, gue baru aja tambah tua setahun September lalu. 16 my age dawg. Kudeta masa-masa remaja setan dimulai

***

Gue kembali dengan cerita baru. Sekarang, gue udah kelas 11. Jurusan gue IPS. Walau jurusan gue dipandang sebelah mata sama banyak orang, gue ga peduli. Justru itu pilihan gue pindah ke IPS. Yup, I was selected into science class but I think science is just not so me. Masalahnya adalah, baru gue sebulan duduk di kelas sosial, banyak orang dewasa yang ngerendahin pilihan gue, dan itu membuat gue depresi sekaligus sedih. Mereka menganggap bahwa kelas IPS itu penuh anak buangan. Intinya, barangsiapa yang menghina kelas sosial, gue benci sebenci-bencinya seperti  Megawati benci SBY.

Enough with the chit-chat. Berawal dari mention masuk dari teman gue yang bilang, “Kita sekelas masa, HAHAHAHA”. Awalnya gue seneng bisa sekelas sama dia. Kemudian, gue mikir kalo ini bakal ga baik..
Namanya Asha. Lahir 16 Maret 1997. Gue kenal dia karena kita sempat satu eskul bareng, eskul lukis. Kemudian kita keluar karena terlalu miskin untuk beli alat lukis dan bayar tutornya sebulan sekali. Kita punya beberapa kesamaan. Yang jelas, kita suka seni rupa. Opini awal yang bakal lo keluarin bila lo ketemu dia untuk pertama kalinya pasti “Asha itu baik ya, pemalu, lucu, keliatannya sih pinter, seniman abis, mirip Fatin X-Factor, ah yang terbaik lah”. Tapi, semua opini itu bakal luntur setelah kenal dia seminggu kemudian. “Malu-maluin, najis, bodo, lelah gue temenan sama dia, enak dibully, ngocol, dll”. Itu gue saat gue kenal Asha pertama kali dan saat gue kenal dia lebih jauh. Pisces abis ye.
Tapi, seperti yang lo tau, Pisces terkenal akan ke-sensitifannya dan ke-indigoannya. Sensitif bukan maksud gue gampang hamil yang sekali kena angin langsung bunting *badumtss*. Setiap lo “apaan sih” ke Pisces, mereka pasti langsung mewek. Kedua, mereka tau kalo lo lagi sedih atau lo lagi ada sesuatu yang ganjel. Biasa, para ikan emang merata indigo-nya. Karena begitu, gue senang mem-bully dia. Tapi gue juga sering kualat karena begitu. Contohnya, gue sering numpahin es-nya ke bajunya, dan keesokan harinya karma menyerang dan seragam putih gue ketumpahan es yang gue minum. Sampe rumah, bibi gue ngeluh karena baju gue susah dicuci
Awalnya gue memilih untuk nggak duduk sama dia. Gue duduk sama orang yang namanya Fatin, Pisces juga, ultahnya sama kayak Risa Saraswati, sikapnya juga, tapi bedanya dia nggak punya temen hantu. Dia super jenius, super pinter, dan economic is my buddy semboyannya. Namun setelah diberlakukan sistem tempat duduk acak, takdir berkata gue harus duduk sama Asha. Sejak dari situ gue mulai mengenal dia lebih dalam. Gue sering banget berantem sama dia, setiap hari malah. Tapi marahan kita nggak mainstream, kita marahan lewat telepati. Sebenernya gue juga nggak tau apa itu telepati cuma karena terdengar keren jadi gue pake kata itu. Contohnya, gue bawa laptop, terus dia pinjem laptop gue. Setelah dia pakai laptop gue, dia letakkin di sembarang tempat. Otomatis gue marah karena dia nggak tanggung jawab. But you know me lah, gue nggak gampang meledak jadi gue marah cukup di dalam pikiran gue aja. However, dia nyadar kalo gue marah! Dan gue nyadar kalo dia nyadar kalo gue marah/?. Terus dia marah-marah di dalam hati sambil ngatain gue. Sebaliknya, gue juga begitu. Intinya, kita kayak bisa mendengar pikiran satu sama lain. Lo ngerti nggak? Gue juga enggak, tapi ini serius dan gue nggak bohong. Gue berani potong kelingking gue kalo emang gue terbukti bohong
Dia suka anime, dia jago banget gambar. Tapi ya gitu deh, bakatnya disalahgunakan... Dengan banyak-banyak menggambar homo. Lo google deh, Kuroko no Basuke, nah itu anime yang isinya homo semua. Dia suka, dan gue enggak. Awalnya sih iya tapi gue lebih ke bromance biasa daripada pure yaoi kayak bromance antara member EXO. Dia suka Je-Jepang-an, gue suka Korea-an. Gitu deh

Pada akhirnya, peperangan gue sama Asha masih sering berlangsung, tapi ya gitu, lama-lama berakhir dengan sendirinya. Gue sayang sama Asha, gue gak tau dia sayang sama gue apa enggak. Gue juga benci sama dia, dan gue tau dia juga sering benci sama gue. Hubungan yang seimbang. Gue suka segala hal yang seimbang. Uhum

5/12/2013

Hipster


Pernah gak sih lo ngeliat orang yang fashion-nya nabrak? Pernah gak sih lo denger aksen british maksa? Pernah gak sih lo di-bully sama orang yang sok tau akan segala hal? Dan yang paling parah, pernah gak sih lo kenal sama orang yang sok anti-mainstream padahal dia cuma versi lain dari mainstream? Nah, mungkin lo baru aja ketemu Hipster


Budaya hipster sendiri belakangan ini sudah mulai merajalela di Indonesia. Asal budaya hipster adalah Amerika. Mereka yang pake sweater di musim panas, mereka yang pake kacamata geek walau mereka bukan geek samasekali, dan mereka yang cuma denger lagu-lagu indie yang bahkan nama band-nya belum pernah kalian denger. Hipster adalah mereka yang berlaku dan berpikir serba anti-mainstream. Beda sama orang yang thinking-out-of-the-box, mereka berlaku anti-mainstream agar dianggap keren sama lingkungan mereka. Being different to gain popularity is their motto.


Musik indie adalah hal yang paling identik dengan para hipster. Lo kenal Efek Rumah Kaca? Lo kenal The Kooks? Lo kenal Payung Teduh? Bisa jadi lo hipster, bisa jadi lo pendengar musik yang baik. Dari jaman Mocca sampai sekarang musik indie banyak yang terbukti bagus dan mereka tenar kembali belakangan ini, terbukti dari banyak event musik indonesia yang bintang tamu-nya para band-band indie. Mereka nggak perform di layar kaca (beberapa ada yang masuk acara Radio Show tvOne– itu juga karena acara musik indie), mereka lebih sering perform di panggung-panggung pentas seni, dan itu sebabnya para hipster suka sama mereka karena mereka nggak pernah masuk acara Dahsy*t. Yaa, mereka memang anti banget sama yang namanya musik alay.

Yang kedua, Vintage dan Nerd-Look adalah ciri mereka yang paling populer. Biar bukan nerd, yang penting geek glasses harus ada. Mereka paling anti sama yang namanya swag karena menurut mereka orang-orang ber-swag­ adalah orang-orang bodoh tak beretika, seperti artis-artis rap gangster Lil Wayne, Wiz Khallifa, Snoopp Dogg, dsb. Para hipster mengganggap mereka sendiri seperti bangsawan dan seba hebat, maka dari itu suka hal-hal yang berbau Inggris.

Yang ketiga, Triangles dan Whole-Seeing-Eye. Gak ngerti juga sih mereka seneng banget sama hal-hal yang berbau illuminati, tapi mereka sering banget memakai aksesoris berbentuk segitiga. Menurut temen gue yang hipster, mereka menganggap segitiga itu penuh misteri dan spesial. Mungkin karena jumlah sudutnya 180 derajat atau teorema Pythagoras itu antik kali ya mereka seneng banget segitiga.. Anyway, walau berbau illuminati, tapi jaraaaaaaaaang banget artis-artis hipster yang mengagungkan aliran satanic.


Ada quote yang pernah gue denger dari seseorang, tapi gue lupa namanya jadi gue kasih inisial aja AB.
Think out of the box? Sure. But then you make another fancy-look box and you get into it. Nice try, hipsters. Still, you’re inside the box anyway” –AB

Terjemahan kasarnya sih, para hipster berusaha untuk berbeda dari yang lainnya, tapi mereka tetap gak bisa buat perubahan. Hipsters itu ibarat melon jepang. Mereka banyak yang dibentuk kotak, segitiga, bahkan bentuk buddha sekalipun biar menarik, tapi tetep aja mereka itu melon dan akan tetap terasa seperti melon.


Are You A Hipster?
Masih bingung lo itu hipster atau bukan? Nih gue bantu buat mengkategorikan lo itu hipster atau bukan

1. Bilang “tidak” karena “ya” banyak yang pilih
Pernah gak sih kalian bilang “nggak” cuma karena pengen beda sendiri? Atau pilih pilihan yang jelek sekalipun karena yang bagus banyak yang pilih? Sudah dipastikan lo itu hipster. Contohnya, karena udah kebanyakan orang yang bawa laptop ke tempat nongkrong buat ngerjain tugas atau kerjaan jadi lo bawa mesin tik buat ngerjain kerjaan lo biar beda sendiri. Atau lo sekalian bawa CPU dan monitor-nya biar diperhatiin orang-orang gitu, yang penting sih berani beda aja. Eh tapi faktanya ada loh orang yang begitu, ini buktinya:

2. Ingin terlihat nerd tapi bukan nerd
Nah ini yang paling gue gak suka. Hipster itu trademark-nya yaa nerd-look. Ada yang bahkan mencoba suka sama apa yang para nerd dan geek suka, seperti jadi fans karbit Star Wars, Lord Of The Rings, atau jadi otaku dulu biar kelihatan nerd. Tapi di lain pihak, mereka getol banget nge-bully para nerd yang asli. Kalo lo hidup di dunia SMA, pasti lo kenal banget sama orang yang kayak gini. Contoh, mereka ngaku otaku, tapi nggak suka budaya Jepang. Mereka ngaku fans Star Wars, tapi tokoh favorit mereka Darth Invader, dll. Mereka bahkan ogah bergaul sama para nerd karena mereka menganggap nerd itu kuper. Namanya juga hipster, apa-apa serba karbit. Nerd asli sih, kalo diajak ngomongin hal-hal yang berbau Nerd nyambung aja dan itu selalu jadi topik yang seru banget

3. Anti sama artis-artis terkenal
Ini yang paling common banget. Mereka paling anti Justin Bieber, One Direction, Selena Gomez, Niki Minaj, dan artis-artis hollywood lain yang tenar. Mereka menganggap artis hollywood itu nggak beda jauh sama artis-artis yang suka nongol di Dahsy*t. Yaa emang beberapa bener sih tapi mereka tuh anti banget-banget-banget biar keliatan nggak mainstream. Mereka benci Rihanna, tapi kalo dijejelin lagu Diamonds juga pasti ikut nyanyi kok.

4. Last but not least, biar kualitas nggak ada yang penting sombong
Ya namanya juga hipster, mereka itu sombongnya nggak ketolongan. Mereka selalu menganggap diri mereka yang paling hebat, itu sebabnya mereka seneng banget nge-bully orang. Memang sih kebanyakan dari mereka itu orang-orang cerdas, tapi cerdas tanpa etika samadengan nol besar kan?


Memang hipster terdengar nyebelin dan rata-rata memang mereka nyebelin tapi hipster adalah sebuah budaya dan nyaris impossible mereka bisa dibasmi tuntas. Buat yang (merasa) hipster, sah aja sih kalian melestarikan budaya kalian, tapi nggak usah menyombongkan ke-berbedaan kalian dong. Berbeda itu memang menyenangkan, tapi berbeda dan nggak punya fungsi atau fungsinya sama seperti yang lain apa masih istimewa? Tapi yang jelas sih, di setiap jiwa manusia pasti ada sedikit sifat hipster tersisip, bahkan gue sekalipun. Yeah, nobody is perfect.

Video yang ngebantu lo mencirikan hipster, klik disini

3/14/2013

Untuk Ayah dan Ibu


Dunia ini luas, begitu pula pikiran manusia. Bayangkan, berapa juta sel memori yang dapat kalian simpan? Bagaimana dengan rahasia? Tentu kalian punya, setidaknya satu rahasia yang tidak pernah kalian bicarakan kepada siapapun termasuk ibumu. Setiap orang memiliki alter ego; yaitu sifat yang bertolak belakang dengan sifat asli mereka. Lain di sekolah, lain di rumah. Lain di tempat kerja, lain di tempat nongkrong.. Ah, sudahlah, prolognya terlalu panjang

*

Untuk Ibu dan Ayah,
Kapan terakhir kali kita main bersama? Maksudku benar-benar bersama?

Aku memang anak yang penurut, apapun yang kalian ucapkan selalu kupatuhi. Aku memang anak yang pendiam, selalu mengiyakan apapun perkataan kalian berdua. Namun, pernahkah sedikit saja kalian melihat bagaimana kehidupan sosialku di luar sana? Bagaimana aku yang sebenarnya?

Karena sejatinya, kehidupan sosialku di luar sana tidaklah terlalu menyenangkan..

Tentu saja, aku bersyukur karena masih banyak teman-teman yang menyayangiku. Ada Dian, Anne, Jihan, Tamara, Azza, Rani, Alvin, Dodo, dan masih banyak lagi. Tapi, ada juga orang-orang tidak menyenangkan yang senang menyakitiku. Sebut saja, mereka yang kurang bahagia hingga akhirnya mereka senang memukuli orang yang mereka anggap lemah. Di sekolahku, bullying bukanlah hal yang asing. Dan aku, merupakan salah satu dari korban mereka

Aku benci mereka yang senang dengan kekerasan, dan aku benci mereka yang tidak senang menerima kekalahan

Ratusan, mungkin ribuan, kejadian-kejadian dan hal-hal lain yang tak pernah kau dengar tentang anakmu ini

Aku memang tidak pernah bercerita layaknya anak-anak normal seperti teman-temanku yang berani bercerita dan mengenalkan teman-temannya. Salahku bukan? Tapi, bagaimana dengan kalian? Kalian pun tak pernah bercerita tentang bagaimana dinginnya malam di luar, penatnya menjadi pegawai kantoran, atau hal-hal lain yang mungkin menarik untuk diperbincangkan. Bila aku diberi pilihan, tentu saja, aku ingin sekali berbagi dengan kalian. Tapi, apakah kalian memiliki waktu luang untukku?

Sekali saja, bila kesempatan itu datang, ah.. tak usah kau tanya betapa senangnya anakmu ini bila ia bisa berbincang dengan kalian

Terakhir kali kalian memelukku? Aku pun lupa, namun yang jelas aku sudah tidak ingat bagaimana rasanya kehangatan pelukan kalian berdua

When I feel that something
I wanna hold your hand
Now, let me hold your hand
(I wanna hold your hand – The Beatles)

Aku ingat, malam terakhir saat kita semua berkumpul dalam satu meja, berbincang seperti layaknya keluarga normal

Sayangnya, topik saat itu bukanlah topik yang menyenangkan..

Aku tidak menyalahkan ayah, bila sekarang aku merindukan figur seorang ibu walau di luar sana banyak wanita dewasa yang sudah menganggapku seperti anak sendiri. Aku juga tidak menyalahkan ibu, bila keadaan rumah berbeda sekarang, itu pilihanmu untuk memisahkan diri dari bagian kami

Tidak setetespun air mataku keluar saat di depanmu, tapi tahukah kalian? Aku menjerit saat kalian semua terlelap kelelahan dari hiruk pikuk ibu kota, aku merasa kesepian saat kalian sibuk berkutat dengan pekerjaan kantor kalian

Tolonglah, sekali saja... Kalian tanya bagaimana sekolahku atau bagaimana teman-temanku..
Untuk ibu, aku merindukanmu, sangat merindukanmu
Untuk ayah, pulanglah.. Maksudku benar-benar pulang

If you ever want to hear my story
Come closer, but my story won’t be as happy as what you expected
But I believe, every story has a happy ending

Jakarta, 14 Maret 2013
Meimei  :)

12/31/2012

2013

Tahun baru pada kemana? Pada nonton tetangga masang petasan doang ya? HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA saya juga sih HEHE

Yaa karena memang nggak ada rencana kegiatan apapun untuk merayakan malam pergantian tahun, kali ini saya sendiri menghibur diri dengan membuat pesta kecil-kecilan dengan cara makan sebungkus keripik kentang sambil nonton tv. Memang nasib keluarga nggak pengen pergi kemana-mana dan memang tidak punya pacar jadi semuanya serba di rumah. Mungkin cerita malam tahun baru saya hampir mirip sama kalian-kalian, cuma saya ditemenin temen saya yang sebut aja Leha. Kita kenalan kira-kira 4 hari yang lalu dan kecelakaan. Entah kenapa saat saya pertama kali ketemu dia, Leha mengingatkan saya pada teman saya yang satu ini

Neng Sindy Dewi Rosmiati, 1996-sekarang

Mmh.. Sebenarnya nggak terlalu mirip sih (dan nggak pake behel) cuma kelakuan dari si Leha mengingatkan saya sama teman saya yang fotonya dipajang di atas dan karena teman saya pernah main peran di teater yang sangat menggambarkan fisik Leha

Aslinya nggak berkerudung, rambutnya dibikin cepol khas Betawi

'Kecelakaan' yang saya maksud disini adalah..
(Suasana kamar tidur dengan penerangan dari cahaya televisi)
Awalnya saya lagi main twitter, tiba-tiba di timeline saya muncul tweet seperti ini


Sebenarnya saya nggak terlalu suka sama acara tv yang ada unsur horor-nya, tapi karena ini suatu pengecualian akhirnya saya langsung beralih ke channel tv lokal yang punya program yang dimaksud. Saya tunggu kira-kira setengah jam sampai acara mulai. Ah, memang keberuntungan saya, teh Risa muncul paling awal jadi saya bisa langsung matiin tv dan tidur dengan tenang setelah dia udah nggak muncul lagi di tv. Jujur saya emang dasarnya penakut tapi karena penulis dan musisi favorit saya lagi ada di tv, saya nggak mau ketinggalan berita tentang dia. Alhasil selama nonton Risa di tv, yang ada malah merekam sedikit informasi dari tv karena berkali-kali harus tutup mata

Lagi enak-enak nonton tv, tiba-tiba bulu kuduk saya berdiri. Perasaan kebelet pipis pun muncul, tapi itu bukan karena vesica urinaria saya yang nggak kuat nahan urine (baca: kencing). Hal ini akan kalian alami bila ada jurig yang lagi berseliweran di sekitar kalian

Ah, terkutuk kau program tv horor, terimakasih telah mendatangkan jurig ke rumah saya

Duduklah perempuan berumur sekitar 25 tahun di samping saya. Berani nengok ke samping? Nggak mungkin lah-_-
*kemudian dia megang tangan saya*
"F*ck....."
Oke karena sudah ketauan kalau saya tau dia ada di samping saya akhirnya dia (yang setelah itu mulai saya panggil Leha) mulai menghujani saya pertanyaan-pertanyaan nggak penting. Saya cuma pura-pura main hape sambil sesekali menanggapi ocehannya sampai akhirnya dia bosen nyerocos. Fix, nggak bisa tidur lagi malam ini..

....

Jadi intinya malam tahun baru saya ditemani Leha yang merengek minta ditemenin nonton kembang api diluar. Saya yang udah mager alias malas gerak memuntahkan alasan-alasan yang nggak masuk akal buat nggak keluar rumah, dan alasan terbodoh yang pertama keluar dari mulut saya adalah: "Saya nggak tau tempat nonton kembang api yang bagus dimana". Leha memang licik pintar, dia berjanji untuk mencarikan tempat yang bagus untuk melihat kembang api berdua. Sebenarnya sih bukan berjanji tapi.. memaksa. Walau di luar gerimis dan gelap tapi kaki ini nggak pernah berhenti buat jalan ke tempat yang Leha maksud. Maaf, kalau saya yang mengendalikan sih tentu saja saya sudah lari balik lagi ke rumah (kalian pikir sajalah sendiri cara Leha memanipulasi saya untuk jalan-jalan). Pertama saya lagi flu dan kedua orang-orang komplek mulai melototin saya yang jalan-jalan sendirian keliling komplek di tengah malam. Berasa jablay, serius

Sudah sampai di tempat yang Leha maksud (lapangan bola yang penuh orang-orang main kembang api) akhirnya saya anteng berdiri ngeliatin kembang api bareng Leha. Kalo dari jauh, kita berdua mirip anak tk, lari-larian sambil tepuk tangan kayak teletubbies. Saya sendiri sering ketawa karena tingkah Leha yang random, tingkahnya sangat mirip teman saya yang di atas.  Setelah 2013 resmi datang saya langsung ngibrit ke rumah. Kebayang nggak sih tengah malam jalan-jalan di komplek yang separuh warganya udah ninggalin tempat tinggal mereka yang otomatis bikin komplek sepi dan gelap? Kunti is in the air, kunti is everywhere~

By the way, saya nggak bisa ngebayang kalo temen saya tau tentang si Leha

Yaah itu cerita saya yang dikerjain sama si Leha. Karena efek kehujanan semalem, flu saya tambah parah. Happy New Year 2013, may happiness will always be with you! *tiup terompet*

12/22/2012

Riwayat Seorang Ibu


Untuk ibuku, dan untuk semua ibu yang ada di dunia ini. Selamat hari ibu sedunia, kalian adalah wanita terhebat yang pernah ada
...
Aku yakin kau menyembunyikan rasa sayangmu dibalik kebencian yang selalu kauperlihatkan padaku. Ketahuilah anakku, aku menyayangimu lebih dari apapun, dan aku tak membutuhkan apapun agar kau menyadarinya

Aku ingat saat aku merasakan tendangan kecil dari perutku, kau menggeliat kesana kemari dan bisa kurasakannya dengan jelas, sangat jelas. Dulu kau anak yang hiperaktif, selalu saja menyulitkanku tidur. Namun, semua itu merupakan pengalaman yang sangat berharga dan tak akan pernah tergantikan. Walau aku belum dapat melihatmu dan menggenggammu dengan tanganku, namun aku dapat melihat dan merasakan keberadaanmu lewat mata hati ini

Aku juga ingat disaat kau menghirup udara bebas dunia ini untuk pertama kalinya. Rasa sakit yang menerjang saat aku berusaha untuk mengeluarkanmu hilang akibat suara tangisanmu. Jeritanmu yang lantang membuatku lega sekaligus haru, tak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan disaat aku melihatmu untuk pertama kalinya. Wajahmu mirip sekali dengan wajahku, sejak hari itu aku berjanji agar melindungimu dari segala marabahaya yang akan mendatangimu

Perkembanganmu sangat cepat, anakku. Bahkan aku sendiri tak pernah sadar bahwa kau bisa tumbuh sebesar ini. Waktu memang cepat berlalu dan aku semakin menua. Aku senang saat aku mendengar kata pertama yang keluar dari mulutmu, aku senang saat aku melihat dirimu berusaha berjalan walau berulang kali kau terjatuh, aku senang segala sesuatu tentangmu, anakku
Saat kau mengenakan seragam untuk pertama kalinya jantungku berdebar kencang, tak kuasa menahan tangis haru bahwa kau sudah menginjak bangku sekolah. Mungkin memang sudah saatnya aku melepasmu untuk belajar hal-hal yang baru, mengeksplorasi segala sesuatu tentang dunia ini

Hatiku hancur saat aku melihat luka lebam di pelipis kirimu. Kau terlihat begitu trauma setelah kejadian yang membuatku syok. Dasar anak-anak berandal, selamanya aku tak akan pernah memaafkan mereka yang telah berbuat keji padamu. Sempat aku ingin menarikmu dari sekolah, namun ayahmu meyakinkanku bahwa kau akan baik-baik saja. Aku menuruti kata-katanya, walau batinku merasa tidak enak. Benar firasatku, semakin hari kau semakin pendiam dan aku mulai mencium hal yang tidak beres di sekolahmu. Lagi-lagi mereka mengusikmu dan bertindak kasar padamu. Lega rasanya saat anak-anak berandal itu dikeluarkan dari sana, tidak ada yang akan mengganggumu lagi anakku. Kau akan selalu aman dalam pelukanku

Di usia remaja ini kau semakin sering marah, emosimu sering meledak tak terkendali. Aku tahu kau marah besar padaku. Aku selalu saja melarangmu untuk berbuat ini itu, tidak membebaskanmu untuk menjelajahi dunia ini. Dengarkanlah anakku, aku takut bila hal buruk menimpamu, aku tak ingin kehilanganmu, itu saja.Kau adalah hartaku satu-satunya, kumohon mengertilah anakku.. Aku tak pernah menyangka bila kau akan tumbuh besar sebagai seorang yang pemarah. Aku takut, sangat takut. Banyak hal di luar sana yang bisa membahayakanmu, banyak hal di luar sana yang dapat mempengaruhimu, aku hanya takut bila aku tak bisa memelukmu lagi

Suatu malam saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, aku tak melihat keberadaanmu di rumah. Aku khawatir, bahkan rasa khawatirku mungkin dapat membunuhku saat itu juga. Tanpa kabar kau pergi dan tanpa kabar pula kau pulang. Ayahmu berulang kali mencoba untuk menghubungimu, namun hasilnya nihil. Saat aku mendengar ketukan pintu dari luar aku langsung berlari, berharap bahwa yang datang adalah dirimu. Benar, kau pulang dengan keadaan lemah, lalu kau terjatuh dalam pelukanku. Apa yang terjadi? Aku tidak melihat sosok anakku yang kukenal, yang kulihat hanyalah manusia yang kacau di hadapanku. Namun tetap saja, kau adalah anakku dan aku tetap akan menyayangimu. Ayahmu terlihat sangat murka, wajahnya merah padam dan emosinya meledak hebat. Kau hanya dapat terdiam, membungkam diri dari hujan pertanyaan yang dilontarkan oleh ayahmu. Aku merekam segalanya, tak sanggup berkata-kata dan berkomentar tentangmu. Tetes air mata mulai membasahi tanah, hatiku hancur, tubuh ini lemas tak dapat berbuat apa-apa. Apa yang telah terjadi, anakku?

Sekarang kau tidak lagi berseragam sekolah, yang aku lihat adalah anak manusia yang telah dewasa. Aku mulai melihat perkembanganmu akan ketertarikan lawan jenis. Berulang kali aku melihat wajahmu berseri-seri sehabis menelpon temanmu yang tak kukenal, berulang kali juga aku melihatmu menangis akibat bentakkan dari temanmu yang kudengar telah menjalin hubungan denganmu. Kuatlah anakku, cinta tak seburuk itu

Baru pertama kali kau membawa teman sepermainanmu ke rumah, mengenalkannya padaku dan ayahmu. Dari raut wajahmu aku dapat melihat kau sangat bersemangat, yakin bila ia adalah orang terpilih untuk menjadi pendamping hidupmu. Aku bahagia karena telah melihat kebahagiaan yang melanda anak semata wayangku, namun hati kecilku berteriak kencang karena takut kehilanganmu, takut bila kekasihmu membawamu pergi dan tak akan pernah mengizinkanmu bertemu dengan wanita tua yang sudah mengasuhmu puluhan tahun lamanya

Hari itu tiba, kau menikahi kekasihmu yang waktu itu kau kenalkan padaku. Rasa haru bercampur bahagia mewarnai hatiku. Maafkan aku yang hanya dapat menyumbangkan sedikit uang untuk membiayai pesta pernikahanmu. Kerja kerasmu terbayarkan sudah, kini hari yang kau nanti-nantikan datang, hari itu milikmu sayangku. Selamat menempuh hidup baru bersama kekasihmu..

Rumah terasa sepi tanpa gelak tawamu, aku dan ayahmu hanya bisa mengurus satu sama lain dan mengenang masa-masa dimana aku masih menimangmu. Rasa rindu membuat hatiku sedih, aku sangat rindu padamu, anakku. Kembalilah pulang, kembalilah pulang...

Tubuh ini semakin kecil dan semakin lemah. Tak terhitung berapa usiaku saat ini, helai demi helai rambutku memutih. Bisa kulihat wajah jelek dalam cermin saat aku berdiri di depannya karena kerutan dimana-mana. Aku memutuskan untuk berbaring, tidur dalam jangka waktu yang lama.. Lama sekali hingga mata ini tak dapat lagi terbuka. Kulihat wajahmu basah akibat air mata yang tak terbendung, melihatku yang tak lagi bernafas. Maafkan aku bila ibumu tak pernah mengasuhmu dengan baik, selamanya aku mengutuk diriku atas perbuatan-perbuatan yang telah menyakiti hatimu. Kuharap kau bahagia selamanya dengan kekasihmu, ibu akan tetap mengawasi dan menjagamu dari atas sini. Jika kau merindukanku pejamkanlah mata dan rasakan keberadaanku dengan mata hatimu, karena hanya itu yang dapat menghubungkan kita kembali, sama seperti saat dimana kau masih ada di dalam perutuku. Aku pulang, anakku. Aku harap kita dapat bertemu kembali di suatu tempat dimana kita tak akan pernah berpisah dan saling berpelukan, menjaga satu sama lain. Jangan sedih, karena aku tak suka melihatmu berlinang air mata. Lihatlah aku yang tertidur di awang ketenangan, jagalah dirimu baik-baik.. Aku mencintaimu lebih dari apapun, selamanya

Cerita Kuno


Rasanya bukan saya bila tak pernah terbangun pada tengah malam
Ah, ini akibat permainan Slender yang begitu adiktif (padahal pada kenyataannya saya tak akan pernah berani untuk memainkannya lagi— bohong, saya terus saja mencicipi seri-seri game indie Slender yang baru)
Jadi... mau cerita apa ya?
Sebenarnya bukan kebetulan saya terbangun dari tidur saya. Walau pada siang harinya saya tidak tertidur namun mata ini rasanya tak inigin terpejam, selalu saja ada bayang-bayang yang menghantui saya. Saat saya menulis ini saya sedang berada di kamar, sendirian. Mmmh, sebenarnya tidak sepenuhnya sendirian sih...
Maksud saya kan ada bantal, guling, ipod saya dan earphone-nya sudah mulai ada cacat dimana-mana... (seharusnya bagian ini tidak perlu dibahas)
Kalian tahu kan Gerakan 30 September yang konon katanya menewaskan banyak jendral dan petinggi militer lainnya? Saya akan berbagi sedikit pengalaman yang katanya pernah terjadi pada keluarga saya dulu sekali sebelum saya terlahir
Kisahnya berawal dari naiknya pangkat ayah dari ayah saya yang saat itu menduduki posisi letnan (keluarga saya memang dikenal sebagai keluarga tentara yang kaku dan menjunjung tinggi kedisiplinan, hingga saat ini saya masih dapat merasakan tradisi militer yang digunakan untuk mendidik anak-anak) dan pengaplikasian ideologi Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis). Keluarga ayah saya menganut aliran Nasionalis, sangat berbeda dengan keluarga sepupu ayah saya yang beraliran komunis. Kedua keluarga ini sering bertengkar, setiap bertemu satu-sama lain selalu saja ada masalah yang timbul akibat perbedaan ideologi. Nampaknya, ideologi baru yang ditetapkan negara tidak berlaku pada mereka. Komunis yang dikenal kejam dan akan meraih segala sesuatu dengan cara apapun mulai menyebar dan bergerak ke seluruh pelosok Indonesia, melancarkan misi-misi mereka untuk mengkomuniskan Indonesia. Melihat keadaan ini, kakek saya mulai bergerak membangun pertahanan keluarganya, setiap anak buahnya ditugaskan untuk menjaga anak-anaknya tak terkecuali ibu dari ayah saya. Keadaan menjadi lebih mencekam saat satu per satu petinggi militer mulai meninggal secara mengenaskan, yang konon katanya dalangnya adalah para anggota-anggota partai komunis. Keluarga ayah saya tidak ambil langkah dalam hal ini, mereka hanya bisa terdiam mengurung diri dan melindungi satu sama lain dari serangan-serangan komunis. Berbagai cara nyaris menghilangkan satu per satu nyawa anggota keluarga ayah saya, mulai dari cara halus sampai cara kasar. Keadaan memuncak saat rumah ayah saya (yang dulu ayah saya masih berumur satu tahun, berada di kawasan Kebayoran Lama) didatangi oleh orang-orang tak dikenal, termasuk sepupu ayah saya yang menganut aliran komunis di dalamnya. Mereka masuk dengan kasar, mencaci dan mengeluarkan kata-kata kotor dan nama kakek saya. Keluarga ayah saya hanya bisa mengunci diri dalam sebuah ruangan (saat itu berfungsi sebagai perpustakaan) sedangkan kakek saya menghadapi orang-orang tak dikenal tersebut dengan beberapa kerabatnya. Benar saja, tak lama kemudian terdengar suara tembakan dari bawah, kemudian semua menjadi hening. Paman saya sempat menguping pembicaraan yang terdengar jelas walau mereka berada di lantai dua, kira-kira yang diceritakan kepada saya seperti ini
“Ini yang terjadi bila kalian menentang kami, Kus! Tak ada yang dapat menghentikan kami dan saudara-saudara kami, bahkan Tuhan sekalipun! Kami tak terkalahkan dan kalian hanya serangga-serangga kecil yang dengan mudah dapat kami binasakan. Menyerahlah, Kus! Cepat atau lambat pun kami akan menemukan keluargamu—dalam keadaan hidup ataupun mati”
Setelah percakapan itu selesai semua menjadi hening, bahkan isakan yang keluar dari saudara-saudari paman saya mulai mereda. Beberapa menit kemudian terdengar kembali suara tembakan dari luar, diikuti dengan erangan seorang laki-laki yang terdengar sangat lantang. Semua yang ada dalam ruangan itu terdiam dan hanya bisa menunggu kedatangan seseorang yang membawa kabar baik maupun buruk—segala sesuatu sangat menentukan nasib dari nyawa mereka
Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu dari luar. Pamanku yang baru berusia 13 tahun memberi isyarat untuk tetap tenang dan biarkan dia yang mengatasinya—setidaknya itu yang ia ceritakan padaku. Sembari menggenggam linggis di tangannya, ia membuka pintu dengan hati-hati. Ibunya berdiri tepat di belakangnya dengan sebuah tongkat kayu panjang yang biasa digunakan sebagai alat bantu jalan. Belum sempat mereka mengayunkan senjata masing-masing, ternyata yang berdiri di ambang pintu adalah ayah mereka, tanpa luka maupun lebam pada tubuhnya. Suara erangan yang tadi mereka dengar masih terdengar, walau volumenya kian mengecil. Rumah dipenuhi oleh laki-laki berseragam militer, lengkap dengan persenjataannya. Darah berceceran di mana-mana, menodai sebagian dari permukaan lantai satu. Meski terlambat, ibu dari ayahku mengingatkan untuk tidak menghiraukan kejadian yang telah meninmpa mereka barusan
“Untung saja kakekmu masih diberi kesempatan hidup oleh-Nya, dia memang laki-laki beruntung” ujar pamanku
“Lalu, apa yang terjadi pada orang-orang komunis itu?” tanyaku dengan antusias
“Tidak ada yang tahu. Ada yang bilang mereka semua dipenjara, ada yang bilang mereka semua sekarang mendekam dalam rumah sakit jiwa. Namun sepupuku, dia masih ada dan masih sering mengunjungi kami dengan damai. Tetap saja, mungkin akibat trauma yang melanda, kami jarang bahkan mungkin tidak pernah mempercayainya lagi. Ia mengunjungi kita hanya setahun sekali, dan itupun saat hari raya idul fitri”
Saya selalu suka dengan cerita-cerita yang keluarga saya alami saat saya belum terlahir di dunia, mereka sangat menarik minat saya dalam hal berimajinasi. Bagaimana jika saya ada diantara mereka? Bagaiman jika kakek saya ternyata mati dalam kejadian itu? Semua pemikiran itu muncul dalam benak ini yang saat itu saya masih berumur 10 tahun. Seiring berjalannya waktu, entah kenapa saya merasakan perbedaan yang kentara walau tembok pemisah di antara mereka sudah diruntuhkan. Seperti benih, seakan dendam keluarga saya sengaja ditanamkan pada saya sejak saya masih kecil. Setiap keluarga sepupu ayah saya yang beraliran komunis datang berkunjung, keluarga saya seakan tidak ingin merangkul mereka lagi walau dalam keadaan susah sekalipun. Jangankan merangkul, untuk membuka tangan mereka saja sepertinya tak pernah. Saya yang menyadarinya berusaha untuk menghapuskan perbedaan itu dengan sangat hati-hati, mungkin karena cerita yang dulu mempengaruhi saya dan sepupu saya yang lainnya. Walau partai komunis sudah tidak ada, namun sempat saya melihat bendera mereka dikibarkan di pusat kota, bahkan mereka segan dengan bangga mengibarkan bendera mereka di depan istana negara saat mengadakan konvoi besar-besaran yang mengatasnamakan rakyat kecil. Saya juga mulai mencium gerak-gerik mereka walau sangat tenang dan sulit terbaca oleh militer, dan pengaruh yang diberikan pun juga sangat besar pada negara ini
Keluarga saya tak pernah ingin mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang berkaitan dengan G30S PKI, nenek saya sangat mengagumi anak dari Jendral Nasution yang telah menjadi korban pembantaian massal, dan saya sendiri dapat melihat sikap mereka yang sangat membenci komunis. Entahlah, saya rasa saya juga membenci mereka, mungkin karena didikan keluargaku? Saya tak pernah tahu, yang jelas bila ada temanku yang mengajakku pergi ke Monumen Pancasila, saya akan menolaknya mentah-mentah dengan alasan “Tempat itu horor, aku tak ingin melihat hantu tanpa kepala atau hantu yang merengek-rengek kesakitan penuh bercak darah pada pakaiannya”
Ahahaha, saya hanya bercanda, saya mau saja pergi ke tempat itu asal ada yang mau menemani kemanapun saya pergi, hehe. Saya menyukai sejarah dan tempat-tempat bersejarah walau sering bulu kuduk ini berdiri sesaat saya berdiri di dalamnya. Saya ini penakut sekali ya?