Seiring berkembangnya zaman, banyak manusia yang berevolusi
menjadi manusia dengan pikiran terbuka. Hal-hal yang dulu dianggap tabu,
sekarang banyak yang sudah tidak dianggap tabu lagi. Pendapat pribadi gue, hal
ini bermula ketika Galileo Galilei berpendapat bumi tidak datar melainkan
bulat, menentang apa yang sudah difirmankan dalam Injil. Sejak fenomena itu,
muncul paham baru yang menentang keberadaan Tuhan.
Secara harafiah atheisme memang berarti tidak punya agama.
Memang sih, mereka gak mengakui kalau alam ini tercipta karena adanya Tuhan,
tapi sebenarnya mereka cuma gak percaya sama hal-hal yang belum teruji
keberadaannya. Yes people, untuk
pertama kalinya intermezzo gue nyambung dengan topik utama kita yaitu SARA.
Sebut aja om John, dia salah satu direktur perusahaan milik
bangsa Amerika yang membuka cabangnya di Indonesia. Gue kenal dia saat mentor
bahasa Inggris gue mengenalkan kita. Dia mantan bos mentor gue, dan dia seorang
atheis. Kita gak pernah ketemu, cuma dikenalin lewat cerita aja sih *badumtss*.
Mentor gue, Weda, pernah berdebat dengan dia tentang paham pernikahan terbuka
saat om John pinjem mobil beliau. Pernikahan terbuka adalah pernikahan yang
mengikat pasangan secara sederhana. Yaaa, paling mentok kompleksnya cuma
sebatas tunangan aja. Kasarnya, kumpul
kebo. Pernikahan terbuka dilakukan juga oleh beberapa artis Hollywood
seperti Gwyneth Paltrow dengan vokalis Coldplay. Gue berharap pembaca artikel
ini pemikirannya sudah dewasa dan terbuka dengan pendapat-pendapat om John.
Orang atheis bukan orang-orang yang suka nongkrong di 9GAG
dan publish meme berisikan gurauan
yang menyinggung agama lain. Orang atheis lebih kepada mereka yang terlihat gak
pernah solat atau ke gereja, tapi masih suka beramal dan memberi simpati
terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka menghargai penganut agama lain
sebagaimana mereka menjalankan hidupnya sebagai atheis. Entah agamanya Islam,
Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Konghucu, bahkan penyembah kulit kerang
ajaib, seberapapun gak masuk akalnya ajaran itu menurut mereka, mereka gak akan
mencela supaya dunia mendapatkan keseimbangannya.
“I’m sick and tired of
all the rules that tied me, Weda. They all seem illogical to me.”
Om John bercerita, dia sudah menjalani pernikahan terbuka
dengan mantan istrinya dari tahun 70-an, hingga akhirnya berpisah di tahun
90-an. Mereka bebas selingkuh dan bebas berhubungan dengan siapa saja. Memang, pendapat
om John ini kalau dipikir-pikir lebih banyak kontranya daripada pronya, tapi
setiap orang berhak untuk berpendapat kan?
“My parents are
Catholics. They banished me after they knew they had satanic son hahaha.”
Menjadi atheis dalam keluarga religius membuat om John
tersiksa dan gak dianggap dari keluarganya. Kata om John, dia merupakan produk
gagal dari pernikahan kedua orangtuanya. Om John lalu menghidupi hidupnya
secara sendirian sampai dia sukses dan bisa menjadi direktur perusahaan
ternama.
“I believe there are
entities around us. I also believe that spirit exists. But they are just like
volcanoes, standing still, existing, and have nothing to do with God’s business
nor sins.”
Om John percaya, segala bentuk dari bencana alam adalah
aktifitas alam semesta yang pasti. Kita sebagai manusia hanya bagian dari alam
semesta itu. Om John juga gak takut kematian. Dia bilang, kematian adalah
bagian dari semua mahluk hidup, dan itu berlaku kepada semuanya. Tidak ada
bencana alam yang berkaitan dengan kemurkaan Tuhan karena manusia yang
membangkang.. Setidaknya itu kata om John.
“Not all atheist are
bad, and not all religious are good. Being atheist doesn’t make you smart
either. If you are an open minded person, no matter atheist or religious, you
are a smart man.”
Om John memberi contoh baik dari spesies manusia langka,
manusia dengan pikiran terbuka. Seandainya banyak orang yang berpikiran terbuka
di negara ini, tentu perang SARA tidak akan terjadi. Mestinya, kita gak usah
mikirin orang agamanya apa, sukunya apa, dari keluarga apa dia berasal, atau
rasnya apa. Kita semua sama dan menyandang gelar sebagai mahluk hidup yang
sama-sama tumbuh dengan mahluk hidup lain. Manusia berhak menganut agama
manapun yang ia suka sebagai pedoman hidupnya. Layaknya pakaian, dicari yang
pas di badan untuk dipakai. Dan beberapa orang lebih suka telanjang ketimbang
pakai baju.
Kalau gue boleh berpendapat, gue sangat gak setuju sama
pernikahan terbuka. Gue berpendapat pernikahan diciptakan untuk menghindari
penyakit yang aneh-aneh menyebar luas. Orang-orang yang suka pesta seks banyak
yang terjangkit raja singa, gonorhea, bahkan AIDS. Tapi gue sependapat sama
kalimat om John yang bilang kalau gak semua atheis itu jahat dan gak semua yang
beragama itu baik.
Terserah pendapat kalian seberapa salah atau hinanya ajaran
agama lain, gue rasa bukan rahasia lagi kalau secara diam-diam setiap penganut
agama saling mencibir ajaran agama lain yang dianggap tidak sejalan dengan
agamanya. Come on people, get your own
business together. Masih banyak hal yang lebih layak diurus ketimbang
mengurus jalan hidup orang lain.
Yang gue coba katakan adalah, kita semua memiliki pandangan
berbeda-beda tentang prinsip hidup. Biarkan mereka menjalankan apa yang mereka
percaya sebagaimana kita menjalankan apa yang kita percaya, terserah mereka
alkoholik, penggila seks bebas, atau pengguna kokain. Kita semua akan mengalami
seleksi alam, dan yang cerdas yang bertahan hidup. Kebiasaan buruk gak akan
bertahan lama. Contohnya, 90 tahun yang lalu para dokter percaya rokok dapat
menyembuhkan penyakit. Sekarang justru para dokter percaya rokok adalah
penyebab utama penyakit. Orang-orang mulai meninggalkan rokok, meski prosesnya
lamban tapi gue percaya rokok akan ditinggalkan.
Tulis komentar bila dirasa ada yang salah dengan artikel
ini. Gunakan bahasa yang baik dan sopan.
*bows*