4/26/2014

Salah

Umur gue baru menginjak 17 September mendatang. Orang-orang bilang umur 17 adalah masa terakhir gue menjadi remaja. Gue akan dapat KTP, SIM, dan gue boleh ikut serta pemilu secara legal di tahun itu juga (sayangnya pemilu terakhir bulan Juli). Gue merasa, di hari-hari menjelang 17 ini, banyak cerita yang membuat gue harus paham dengan sifat orang lain, gak selamanya gue akan terus dipahami. Teman-teman gue yang menyebalkan, walau pada awalnya gue sulit menerima mereka, lama-kelamaan waktu yang membuat gue harus menerima dengan ikhlas sifat-sifat mereka. Setidaknya, satu langkah menjadi dewasa.

Gue sekarang mengerti, kriteria dewasa bukan berapa banyak ulang tahun lo yang sudah lo rayakan, tapi bagaimana cara lo berpikir dan cara lo bertindak. Mungkin di tahun lalu pikiran gue memang sudah matang namun tidak dengan tindakan gue. Gue yang punya emosi kurang stabil cenderung senang mengambil keputusan dengan tergesa-gesa dan cepat mengambil resiko. Gue juga yakin remaja pada umumnya mengalami hal yang sama seperti gue, setidaknya sekali dalam umur 16 mereka. Komentar-komentar negatif yang membuat gue terlempar jauh ke awal dan harus memperbaiki semuanya. Things didn’t go so well lately, but that’s just because Allah has bigger plan for me. Gue mengaku kalau gue sering salah, tapi gue bahagia karena gue pernah salah gue jadi belajar untuk meminta maaf. Saying sorry is a big deal for me. My mind is deep, but my ego is deeper. Itu sebabnya kenapa banyak yang gak suka gue di tahun ini. Kalau tahun lalu gue di-bully, tahun ini gue justru mem-bully banyak perasaan orang.

Gue tipe orang yang “sadar-sadar bego”. Gue sadar gue salah, tapi gue sulit untuk minta maaf ke seseorang. Meski umur gak ada yang tahu, di umur yang masih sangat muda ini, gue yakin perjalanan gue masih panjang untuk belajar mengendalikan keegoisan gue sendiri dan hal-hal lain yang menjadi api hitam di pikiran maupun hati gue. Gue sangat bersyukur telah dilahirkan di tempat yang setiap manusianya punya warna bervariasi. 

Ada yang lucu, ada yang menyebalkan, ada yang pemarah, ada yang penyabar, ada juga yang bijak. Gue suka semuanya, orang sombong sekalipun. Ya, orang sombong adalah tipe orang yang menempati nomor pertama di urutan orang-orang yang gue benci. Di nomor dua ada orang egois dan di nomor tiga ada orang munafik. Setelah bercengkrama dengan mentor bahasa gue, Weda selama 3 jam, gue diberi banyak pengetahuan tentang kehidupan ini. Gue adalah salah satu penggemar di antara ratusan penggemarnya. Umur beliau terpaut 38 tahun dengan gue. Dia banyak bercerita tentang pengalaman-pengalaman pribadinya yang memaksakan dia untuk berhenti menjadi anak nakal dan memulai untuk menjadi berguna bagi orang-orang di sekitarnya. Gue akan selalu ingat kata dia, mulailah untuk mengendalikan ego kita sendiri. Kalau kita menjadi pribadi yang positif pasti respon orang juga akan positif.

Gue sudah meminta maaf kepada teman gue yang pernah gue jutekin dan cuekin karena suatu hal. Gue sudah meminta maaf ke guru sosiologi gue karena gue suka berkata lancang ke dia dan suka bicara yang negatif di balik punggung dia. Gue juga sudah meminta maaf kepada teman-teman baru gue, yang saat ini gue masih proses adaptasi, kalau gue pernah berlaku kasar dan dengan sindiran-sindiran gue yang gak enak di telinga dan hati. Being evil is not so me. I could probably be the devil’s advocate but a bloody route somehow cannot suite me, so I go back to the beginning and choose the bright and clean route instead. Meskipun suatu saat gue bisa terjatuh ke jalan gelap kembali, tapi sepertinya sih jalan gelap bete sama gue karena gue terlalu lemah untuk menjadi orang jahat hahaha.

Namanya juga Libra, semua serba seimbang. Baik dan buruknya seimbang, dosa dan pahalanya juga seimbang, semoga saja nanti gue di akhirat gak di ambang neraka dan surga juga biar seimbang.

Ini dia pemikiran gue kenapa mulai bayak orang yang gak suka sama gue:
1. Pembawaan bicara gue cenderung nyelekit. Kadang gue dengan gamblangnya mengkritik seseorang dengan tajam.
2. Gue suka menyembunyikan rasa benci terhadap seseorang sendirian, sehingga beberapa orang yang terlalu sensitif yang bisa merasakannya menganggap kalau gue sudah membelakangi mereka dan mulai membuat tembok di sekitar mereka, takut-takut kalau gue akan berakhir menusuk mereka dari belakang.
3. Gue sulit mengerti perasaan orang lain. Paham memang iya tapi pelaksanaannya gue gak peduli sama apa yang orang rasakan bila menurut gue itu salah, dan gue merasa gak seharusnya gue memaksakan pendapat gue terhadap orang lain.
4. Arogansi. Gue akui gue dapat melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut. Tapi karena itu justru gue menyalahgunakan kelebihan gue dengan seenaknya mencap orang negatif bila pandangan yang mereka ambil itu negatif. Gue akui juga gue pintar dalam memahami situasi. Lagi-lagi gue salahgunakan untuk menjatuhkan orang lain dengan membaca kelemahan orang untuk menyerang.
5. Terus berpikiran negatif. Bukannya waspada malah bikin masalah baru.


Iya, ini ajang curhat. Beberapa pemikiran yang belakangan ini selalu lalu-lalang di pikiran gue. Manalagi, game Pokemon di handphone gue gak sengaja gue uninstall. Udah ada Rayquaza, Groudon, Kyogre, dan baru saja dapat Latios. Ini mungkin hukuman dari Allah.

Salam Curhat.

4/16/2014

Thank You

I see you, and thank you for @KisahIndigo admin :)


When Atheist Says Right Things

Seiring berkembangnya zaman, banyak manusia yang berevolusi menjadi manusia dengan pikiran terbuka. Hal-hal yang dulu dianggap tabu, sekarang banyak yang sudah tidak dianggap tabu lagi. Pendapat pribadi gue, hal ini bermula ketika Galileo Galilei berpendapat bumi tidak datar melainkan bulat, menentang apa yang sudah difirmankan dalam Injil. Sejak fenomena itu, muncul paham baru yang menentang keberadaan Tuhan.

Secara harafiah atheisme memang berarti tidak punya agama. Memang sih, mereka gak mengakui kalau alam ini tercipta karena adanya Tuhan, tapi sebenarnya mereka cuma gak percaya sama hal-hal yang belum teruji keberadaannya. Yes people, untuk pertama kalinya intermezzo gue nyambung dengan topik utama kita yaitu SARA.

Sebut aja om John, dia salah satu direktur perusahaan milik bangsa Amerika yang membuka cabangnya di Indonesia. Gue kenal dia saat mentor bahasa Inggris gue mengenalkan kita. Dia mantan bos mentor gue, dan dia seorang atheis. Kita gak pernah ketemu, cuma dikenalin lewat cerita aja sih *badumtss*. Mentor gue, Weda, pernah berdebat dengan dia tentang paham pernikahan terbuka saat om John pinjem mobil beliau. Pernikahan terbuka adalah pernikahan yang mengikat pasangan secara sederhana. Yaaa, paling mentok kompleksnya cuma sebatas tunangan aja. Kasarnya, kumpul kebo. Pernikahan terbuka dilakukan juga oleh beberapa artis Hollywood seperti Gwyneth Paltrow dengan vokalis Coldplay. Gue berharap pembaca artikel ini pemikirannya sudah dewasa dan terbuka dengan pendapat-pendapat om John.

Orang atheis bukan orang-orang yang suka nongkrong di 9GAG dan publish meme berisikan gurauan yang menyinggung agama lain. Orang atheis lebih kepada mereka yang terlihat gak pernah solat atau ke gereja, tapi masih suka beramal dan memberi simpati terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka menghargai penganut agama lain sebagaimana mereka menjalankan hidupnya sebagai atheis. Entah agamanya Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Konghucu, bahkan penyembah kulit kerang ajaib, seberapapun gak masuk akalnya ajaran itu menurut mereka, mereka gak akan mencela supaya dunia mendapatkan keseimbangannya.

“I’m sick and tired of all the rules that tied me, Weda. They all seem illogical to me.”

Om John bercerita, dia sudah menjalani pernikahan terbuka dengan mantan istrinya dari tahun 70-an, hingga akhirnya berpisah di tahun 90-an. Mereka bebas selingkuh dan bebas berhubungan dengan siapa saja. Memang, pendapat om John ini kalau dipikir-pikir lebih banyak kontranya daripada pronya, tapi setiap orang berhak untuk berpendapat kan?

“My parents are Catholics. They banished me after they knew they had satanic son hahaha.”

Menjadi atheis dalam keluarga religius membuat om John tersiksa dan gak dianggap dari keluarganya. Kata om John, dia merupakan produk gagal dari pernikahan kedua orangtuanya. Om John lalu menghidupi hidupnya secara sendirian sampai dia sukses dan bisa menjadi direktur perusahaan ternama.

“I believe there are entities around us. I also believe that spirit exists. But they are just like volcanoes, standing still, existing, and have nothing to do with God’s business nor sins.”

Om John percaya, segala bentuk dari bencana alam adalah aktifitas alam semesta yang pasti. Kita sebagai manusia hanya bagian dari alam semesta itu. Om John juga gak takut kematian. Dia bilang, kematian adalah bagian dari semua mahluk hidup, dan itu berlaku kepada semuanya. Tidak ada bencana alam yang berkaitan dengan kemurkaan Tuhan karena manusia yang membangkang.. Setidaknya itu kata om John.

“Not all atheist are bad, and not all religious are good. Being atheist doesn’t make you smart either. If you are an open minded person, no matter atheist or religious, you are a smart man.”

Om John memberi contoh baik dari spesies manusia langka, manusia dengan pikiran terbuka. Seandainya banyak orang yang berpikiran terbuka di negara ini, tentu perang SARA tidak akan terjadi. Mestinya, kita gak usah mikirin orang agamanya apa, sukunya apa, dari keluarga apa dia berasal, atau rasnya apa. Kita semua sama dan menyandang gelar sebagai mahluk hidup yang sama-sama tumbuh dengan mahluk hidup lain. Manusia berhak menganut agama manapun yang ia suka sebagai pedoman hidupnya. Layaknya pakaian, dicari yang pas di badan untuk dipakai. Dan beberapa orang lebih suka telanjang ketimbang pakai baju.

Kalau gue boleh berpendapat, gue sangat gak setuju sama pernikahan terbuka. Gue berpendapat pernikahan diciptakan untuk menghindari penyakit yang aneh-aneh menyebar luas. Orang-orang yang suka pesta seks banyak yang terjangkit raja singa, gonorhea, bahkan AIDS. Tapi gue sependapat sama kalimat om John yang bilang kalau gak semua atheis itu jahat dan gak semua yang beragama itu baik.

Terserah pendapat kalian seberapa salah atau hinanya ajaran agama lain, gue rasa bukan rahasia lagi kalau secara diam-diam setiap penganut agama saling mencibir ajaran agama lain yang dianggap tidak sejalan dengan agamanya. Come on people, get your own business together. Masih banyak hal yang lebih layak diurus ketimbang mengurus jalan hidup orang lain.

Yang gue coba katakan adalah, kita semua memiliki pandangan berbeda-beda tentang prinsip hidup. Biarkan mereka menjalankan apa yang mereka percaya sebagaimana kita menjalankan apa yang kita percaya, terserah mereka alkoholik, penggila seks bebas, atau pengguna kokain. Kita semua akan mengalami seleksi alam, dan yang cerdas yang bertahan hidup. Kebiasaan buruk gak akan bertahan lama. Contohnya, 90 tahun yang lalu para dokter percaya rokok dapat menyembuhkan penyakit. Sekarang justru para dokter percaya rokok adalah penyebab utama penyakit. Orang-orang mulai meninggalkan rokok, meski prosesnya lamban tapi gue percaya rokok akan ditinggalkan.


Tulis komentar bila dirasa ada yang salah dengan artikel ini. Gunakan bahasa yang baik dan sopan.

*bows*

12/22/2013

Terasontime

Teras 66 On Time, Hah! Kita lucu, kita seru, kita satu!
Selamat malam, selamat datang di penghujung bulan Desember, bulang yang paling punya banyak cerita. Karena itu di bulan ini gue bakal lebih banyak curhat. Kali ini gue akan menceritakan keluarga baru gue, Teater Anak Seni 66 On Time.
Terasontime, begitu singkatannya. Meski terdapat kata “On Time” di belakangnya, terbukti teater ini terkenal akan keterlambatannya. Satu Jabodetabek tau eskul teater yang digawangi oleh Syarif Hidayatullah ini. “Mmh, Terasontime? Teater yang sering telat datang rapat itu ya?” atau “Terasontime? Ohh, yang waktu pementasannya ngaret itu ya?”. Bahkan salah satu pelatih teater SMA 97 bernama Heri, pernah berkata seperti ini “TERASONTIME CABUT AJA TUH NAMA ON TIME-NYA” karena kita semua sering terlambat datang di setiap pertemuan.
Sebenarnya penambahan kata “On Time” itu ada maksudnya pemirsa. Konon katanya, para leluhur menambahkan “On Time” karena mereka selalu kalah bergulat dengan waktu. Sedihnya lagi, penambahan kata tersebut tidak merubah nasib mereka dan hanya membuat Teater 66 diejek oleh teater lain. Awalnya memang hanya Teras sebutannya. Entah apa yang ada dalam pikiran para leluhur saat itu, namanya juga zaman dahulu kala masih percaya dengan hal magis. Sekarang, zaman sudah modern. Terasontime berkembang menjadi teater yang terkenal bukan hanya karena keterlambatannya namun juga karena prestasi yang telah diraih mereka. Sayangnya penyakit terlambat masih menjangkit keluarga Terasontime beserta keturunannya. Mungkin kutukan ini akan hilang bila mencapai generasi ketujuh. Penyakit percaya hal magis juga masih melekat pada keluarga ini, seperti percaya tumbal pra-FTS. FTS merupakan singkatan dari Festival Teater SMA, ajang bergengsi yang diikuti seluruh teater SMA se-Jabodetabek. Awalnya saya tidak percaya mitos ini namun ternyata ada benarnya juga. Dari setiap generasi pasti ada yang jatuh sakit sebelum lomba dimulai. Dimulai dari tahun 2010, seorang anggota yang bernama Rina terkena penyakit gondongan padahal waktu pementasan tinggal beberapa hari lagi. Tahun 2012 seorang anggota bernama Sarah terjatuh saat bermain peran. Terbesit luka sobek dari ujung sikut hingga pergelangan tangan karena bergesekan dengan aspal. Tahun 2013 seorang anggota bernama Faizah mengalami patah tulang pada lengan kirinya. Padahal, ia merupakan tokoh utama, harus menari balet, dan pementasan hanya tinggal 10 hari lagi. Cerita tersebut hanya sebagian kecil dari mitos tumbal, konon katanya tumbal akan jatuh pada setiap angkatan. Sayangnya, untuk angkatan 2015, yaitu angkatan saya, takdir memilih saya untuk tidak ikut pentas karena saya sakit cacar tepat 4 hari sebelum pementasan. Akhirnya saya percaya mitos itu benar adanya.
Atau itu hanya akal-akalan senior saya saja?
Oh ya, dalam Terasontime kami tidak mengenal senior dan junior, hanya ada sebatas kakak dan adik. Kami semua seperti keluarga, kata “senioritas” berdiri jauh dari kami. Justru, para junior yang senang memperpeloncoi para senior. Kami lebih senang menyebutnya “junioritas”. Tapi bila kakak-kakak kami sudah marah karena kami bercanda saat latihan, tak ada satupun yang berani menatap mata mereka.
Sejak tahun 2012 Terasontime tidak memiliki anak laki-laki lagi. Mungkin Sasya, istri dari Syarif, pelatih kami, kehabisan kromosom X. Sedih rasanya melihat saudara kami betina semua, semoga Sasya dan Syarif segera dianugrahi anak laki-laki.
Bila sedang latihan, eskul kita yang paling heboh. Biasanya, murid-murid lain akan memandang kami dengan tatapan jijik dan terkadang diikuti sorakan “Orang gilaaa orang gilaaa”. Tapi , Alhamdulillah karena kami memang sudah gila jadi ya kita haha-hihi aja. Motto kami adalah Keluar Dari Zona Nyaman. Saya rasa, semua eskul teater di sekolahnya pasti juga dianggap sama oleh eskul lain, setuju?
Di Terasontime saya diajarkan olah tubuh, berakting, dan materi yang paling saya senangi adalah menyatu dengan alam. Wajib hukumnya untuk melepas alas kaki bila sedang latihan walau matahari sedang bersinar terik, membuat aspal menjadi sangat panas dan dapat membuat telapak kaki kami melepuh. Tapi begitulah, terkadang kami berlatih di hamparan padang rumput. Tentu saja lokasinya berada di luar kota karena di Jakarta sangat jarang ditemukan padang rumput. Di sana, saya menemukan beragam jenis serangga tanah yang indah, bahkan semut sebesar buku-buku jari.
Keep this as a secret, teater kami lebih sering main daripada latihan.
Pernah suatu hari kami harus pentas dalam acara demo eskul. Semua sudah dipersiapkan dengan rapih, namun salah satu tokoh utama dalam cerita berhalangan hadir sehingga cerita harus dirombak habis-habisan. Waktu yang digunakan untuk mempersiapkan diri menuju pementasan rata-rata 4 hari. Waktu tercepat waktu itu adalah saat kurasi (eksibisi pra-FTS) pementasan Eng Ing Eng yaitu hanya setengah jam sebelum pementasan. Namanya juga “On Time”

Tautan ini memang dimaksudkan untuk sombong. Saya begitu bangga memiliki Terasontime. Akhir kata, masuk teater ya adik-adik! :3

Resensi (suka-suka) Sunyaruri

Baru beberapa jam gue selesai baca buku Sunyaruri, tangan gue udah gatal ingin meresensi novel terbaru Risa Saraswati yang masih mengisahkan tentang dia dan ketujuh teman kecilnya yang berketurunan Belanda itu. Membayangkan wajah pucat dengan pinggiran mata yang berwarna kehitaman, itu pertama kali yang gue kira-kira tentang gambaran teman-teman hantunya. Tapi, seperti dalam 2 buku sebelumnya, Nona Saraswati kembali menggambarkan mereka sebagai sosok-sosok yang lucu dan ramah untuk diajak bermain. Risa kembali “memanusiakan” mereka. Sunyaruri merupakan kelanjutan dari novel Danur dan Maddah. Seakan dibawa hanyut oleh cerita, seakan terhisap dalam dunianya, seakan-akan ikut menyaksikan kejadian-kejadian yang dialami Nona Saraswati.
Sunyaruri mengisahkan tentang kehidupan penulis yang telah lama menjalin persahabatan dengan tujuh anak kecil berkebangsaan Belanda yang pernah menjadi manusia. Persahabatannya kembali merenggang. Tidak hanya menceritakan tentang kisah persahabatannya, Risa juga menceritakan cerita teman-teman lainnya yang juga bukan manusia lagi, seperti Karina. Baru membuka beberapa halaman, sudah disaduri cerita yang dramatis. Beberapa kali gue harus menahan air mata saat membaca kisah Karina yang malang. Bagi yang belum membaca Sunyaruri, tautan ini dijamin penuh spoiler. Karina yang memiliki sikap kritis membuat ayah tirinya sering naik darah dan terkadang menganiayanya. Namun Karina tetap menyayangi ayahnya sekeji apapun perlakuannya. Haahhh, mata gue berkaca-kaca saat membacanya. Tapi, cara Nona Saraswati menggambarkan kejadian saat kepergian Karina sedikit mirip yang ada di sinetron-sinteron sih, hehehe. Dramatis.  Mulut gue sempat menganga saat membacanya. Meskipun terkesan melebih-lebihkan, sifat dramatis dari novel Sunyaruri ini menjadi nilai tambah sekaligus nilai kurang, karena kalau gak dramatis gue rasa akan “hambar” rasanya.
Belum selesai pemirsa. Dari cara pendongengan Risa Saraswati dalam novel Sunyaruri ini, tergambar bahwa beliau merupakan orang yang super emosional (bahkan Risa sendiri mengakuinya). Karena di dalam novel ini banyak segmen dimana Risa sedang marah dan menangis. Tapi terimakasih Tuhan telah memberi bakat dramatis dan emosional kepada penulis lokal favorit hamba. Semua cerita yang Risa tulis terasa sangat hidup. Seperti kisah Anette. Gue terharu! Bisa gue bilang ini cerita yang paling gue suka. Ikatan hubungan antara Sonja, Philf, dan Anette membuat gue tersentuh. Akhir dari cerita mereka bertiga juga sukses membuat gue menitikkan beberapa tetes air mata. May their souls rest in peace.
Terdapat jutaan partikel dramatis dalam setiap kata yang tercetak lembar demi lembar. Seperti yang beliau bilang sendiri, Nona Saraswati merupakan orang berzodiak Pisces. Instannya, Risa memang ditakdirkan untuk menjadi orang yang dramatis. Tapi ini nilai tambah kok, gue suka hal-hal dramatis! Tapi gak tau juga deh pendapat kalian apa. Yang jadi resensator di sini kan gue. Kok gue jadi sewot sih? Yaudah skip lagi. Intinya, dramatis sah dinobatkan menjadi ciri khas Risa Saraswati, ehehehehek.
(Semoga Risa Saraswati gak baca apa yang gue tulis di sini ya Allah. Gue takut dia marah karena gue ejek dia dramatis terus. Semua bilang apaa? Aamiin)
(Eh tapi apa yang salah jadi dramatis sih? Buktinya teh Risa bisa sukses karena dia dramatis)
(....Tuh kan gue bilang dia dramatis lagi)
(..Ampuni aku teteh..)
(..Jangan bunuh aku..)
(..Aaaahh..)
*emot sedih*
Lanjut. Secara keseluruhan, buku ini asik banget dibaca kalau lagi hujan. Kenapa? Soalnya hujan itu kan tenang, kalau dibarengi membaca Sunyaruri jadinya geregetan. Pembukaannya dapet, klimaksnya dapet, tapi sayangakhirannya kurang dapet, seperti ditinggalkan begitu saja. Gue gak akan cerita seperti apa akhir ceritanya, kalau mau tau beli sendiri di Omuniuum (www.omuniuum.net)  seharga Rp 65.000 ya! Iyalah, kalau kata anak sekarang sih, modal dikit keleees.
Akhir kata, I LOVE YOU RISA SARASWATI WITH ALL OF MY HEART

*emot cium* *emot cium* *emot cium* *dikali 1000*

11/04/2013

Moving Up!

Since it is so hard to customize my page in blogger, i decided to move my things up to my old tumblr page. But wait! I'm not gonna leave this page, i'll be just more intense to upload things in my tumblr since reading a story in tumblr is super boring. It's full of crap, remembering the old times when i was super lame.
...Well i'm still lame but at least my lame-o-meter is decreasing a bit...
*"boo" echoing all over the place*
Well it also make me easier to share my fangirl stuffs :P
JK, i'm not gonna fangirl (much), i swear :)
So please, kindly visit my new home, tumblr formatted :D
http://anonimanimus.tumblr.com/

10/12/2013

Asha

Gue cerita ini karena belum pernah gue kayak gini sebelumnya. Terserah kalo kalian mau bilang gue kekanakan tapi yaa daripada gue tumbuh dewasa lebih cepat mending gue bersikap apa adanya sesuai dengan umur gue sekarang. Ditambah, gue baru aja tambah tua setahun September lalu. 16 my age dawg. Kudeta masa-masa remaja setan dimulai

***

Gue kembali dengan cerita baru. Sekarang, gue udah kelas 11. Jurusan gue IPS. Walau jurusan gue dipandang sebelah mata sama banyak orang, gue ga peduli. Justru itu pilihan gue pindah ke IPS. Yup, I was selected into science class but I think science is just not so me. Masalahnya adalah, baru gue sebulan duduk di kelas sosial, banyak orang dewasa yang ngerendahin pilihan gue, dan itu membuat gue depresi sekaligus sedih. Mereka menganggap bahwa kelas IPS itu penuh anak buangan. Intinya, barangsiapa yang menghina kelas sosial, gue benci sebenci-bencinya seperti  Megawati benci SBY.

Enough with the chit-chat. Berawal dari mention masuk dari teman gue yang bilang, “Kita sekelas masa, HAHAHAHA”. Awalnya gue seneng bisa sekelas sama dia. Kemudian, gue mikir kalo ini bakal ga baik..
Namanya Asha. Lahir 16 Maret 1997. Gue kenal dia karena kita sempat satu eskul bareng, eskul lukis. Kemudian kita keluar karena terlalu miskin untuk beli alat lukis dan bayar tutornya sebulan sekali. Kita punya beberapa kesamaan. Yang jelas, kita suka seni rupa. Opini awal yang bakal lo keluarin bila lo ketemu dia untuk pertama kalinya pasti “Asha itu baik ya, pemalu, lucu, keliatannya sih pinter, seniman abis, mirip Fatin X-Factor, ah yang terbaik lah”. Tapi, semua opini itu bakal luntur setelah kenal dia seminggu kemudian. “Malu-maluin, najis, bodo, lelah gue temenan sama dia, enak dibully, ngocol, dll”. Itu gue saat gue kenal Asha pertama kali dan saat gue kenal dia lebih jauh. Pisces abis ye.
Tapi, seperti yang lo tau, Pisces terkenal akan ke-sensitifannya dan ke-indigoannya. Sensitif bukan maksud gue gampang hamil yang sekali kena angin langsung bunting *badumtss*. Setiap lo “apaan sih” ke Pisces, mereka pasti langsung mewek. Kedua, mereka tau kalo lo lagi sedih atau lo lagi ada sesuatu yang ganjel. Biasa, para ikan emang merata indigo-nya. Karena begitu, gue senang mem-bully dia. Tapi gue juga sering kualat karena begitu. Contohnya, gue sering numpahin es-nya ke bajunya, dan keesokan harinya karma menyerang dan seragam putih gue ketumpahan es yang gue minum. Sampe rumah, bibi gue ngeluh karena baju gue susah dicuci
Awalnya gue memilih untuk nggak duduk sama dia. Gue duduk sama orang yang namanya Fatin, Pisces juga, ultahnya sama kayak Risa Saraswati, sikapnya juga, tapi bedanya dia nggak punya temen hantu. Dia super jenius, super pinter, dan economic is my buddy semboyannya. Namun setelah diberlakukan sistem tempat duduk acak, takdir berkata gue harus duduk sama Asha. Sejak dari situ gue mulai mengenal dia lebih dalam. Gue sering banget berantem sama dia, setiap hari malah. Tapi marahan kita nggak mainstream, kita marahan lewat telepati. Sebenernya gue juga nggak tau apa itu telepati cuma karena terdengar keren jadi gue pake kata itu. Contohnya, gue bawa laptop, terus dia pinjem laptop gue. Setelah dia pakai laptop gue, dia letakkin di sembarang tempat. Otomatis gue marah karena dia nggak tanggung jawab. But you know me lah, gue nggak gampang meledak jadi gue marah cukup di dalam pikiran gue aja. However, dia nyadar kalo gue marah! Dan gue nyadar kalo dia nyadar kalo gue marah/?. Terus dia marah-marah di dalam hati sambil ngatain gue. Sebaliknya, gue juga begitu. Intinya, kita kayak bisa mendengar pikiran satu sama lain. Lo ngerti nggak? Gue juga enggak, tapi ini serius dan gue nggak bohong. Gue berani potong kelingking gue kalo emang gue terbukti bohong
Dia suka anime, dia jago banget gambar. Tapi ya gitu deh, bakatnya disalahgunakan... Dengan banyak-banyak menggambar homo. Lo google deh, Kuroko no Basuke, nah itu anime yang isinya homo semua. Dia suka, dan gue enggak. Awalnya sih iya tapi gue lebih ke bromance biasa daripada pure yaoi kayak bromance antara member EXO. Dia suka Je-Jepang-an, gue suka Korea-an. Gitu deh

Pada akhirnya, peperangan gue sama Asha masih sering berlangsung, tapi ya gitu, lama-lama berakhir dengan sendirinya. Gue sayang sama Asha, gue gak tau dia sayang sama gue apa enggak. Gue juga benci sama dia, dan gue tau dia juga sering benci sama gue. Hubungan yang seimbang. Gue suka segala hal yang seimbang. Uhum